Oleh: ramdhany | April 5, 2010

Hidup dan Matiku

Sering kali aku berkata
Ketika orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipanNya
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipan Nya,
Bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tapi…
Mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku…
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?

Ketika diminta kembali
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa…
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Gusti…
Padahal tiap hari kuucapkan
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah

Wallahu’alambishawab
dikutip dr tulisan WS Rendra


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: