Oleh: ramdhany | November 30, 2009

Kapan sekolah kami, lebih baik dari kandang ayam?

Tanpa sebuah kepalsuan
Guru artinya ibadah.

Tanpa sebuah kemunafikan
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunia ternyata tuli
Setuli batu. Tidak berhati.

Otonomininya
Kompetensinya
Profesinya
Hanya sepuhan pembungkus rasa getir,”

Bolehkan kami bertanya…
Apakah artinya bertugas mulia
Ketika kami hanya terpinggirkan
Tanpa ditanya
Tanpa disapa

Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?

Ketika semua orang menangis
Kenapa kami harus tetap tertawa?

Kenapa ketika orang kekenyangan
Kami harus tetap kelaparan?

Bolehkah kami bermimpi
Di dengar ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Dan mana mungkin berharap dalam kondisi terburuk

Sejuta batu nisan
Guru tua yang terlupakan oleh sejarah
Terbaca torehan darah kering

Di sini berbaring seorang guru
Semampu membaca buku usang
Sambil belajar menahan lapar
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
Guru tua yang terlupakan oleh sejarah

01 Desember 2009
Ditulis oleh Prof. Winarno Surahman
dengan beberapa perbaikan


Responses

  1. sobat, saya baca dulu puisinya, lain waktu berkunjung kembali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: