Oleh: ramdhany | Oktober 29, 2008

Hanya titipan

Sering kali aku berkata…
Ketika orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa hartaku hanya titipan Nya
Bahwa ilmuku hanya titipan Nya
Bahwa rumahku hanya titipan Nya

Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku…
Apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat
Saat titipan itu diminta kembali olehNya?

Ketika diminta kembali…
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya
Harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampir”

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”
Dan menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku

Tuhan…
Padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

Wallahu’alambishawab
Cibinong, 29 Okt 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: