Oleh: ramdhany | Oktober 14, 2008

Mereka Yang Frustasi..!

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff:8)

Kalau dulu…
Fitnah terhadap ummat Islam dilakukan dengan cara-cara ‘sederhana’ lewat kabar bohong, intimidasi, cemoohan, dan sebutan-sebutan buruk. Zaman kini hakikatnya sama saja, hanya channel komunikasinya saja yang semakin beragam kecanggihannya, dengan tema yang semakin bermacam-macam. Ada yang dalam bentuk media massa dengan peralatan mutakhir, ada pula yang menggunakan lembaga-lembaga kajian ‘ilmiah’ baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

Fitnah kaum kuffar memang tak pernah sepi di sepanjang zaman risalah Islam. Di zaman Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam para Nasionalis-Quraisy mencap beliau dan para pengikutnya sebagai pemecah persatuan, penyebab disintegrasi bangsa. Gerakannya dianggap subversif, sumber instabilitas, dan mengancam dasar-dasar negara.

Secara pribadi pun…
Nabi Muhammad Saw sendiri pernah dicemooh sebagai orang gila, pembohong besar, kemasukan jin, dan ahli sihir. Dan suatu saat dalam rentang waktu yang agak lama, Rasulullah tak mendapatkan wahyu, maka para kuffar bersorak dan mengejek beliau dengan mengatakan “Muhammd sudah ditinggalkan Tuhannya“.

Dan di zaman kini…
Temanya mirip-mirip, namun dengan kecanggihan peralatan komunikasi, penyebaran fitnah bisa lebih segera, bertahan lebih lama, dengan kemasan yang lebih memikat (setidaknya untuk sementara). Ummat Islam hampir tak mampu mengimbangi arus besar fitnah seperti itu, apalagi membuat issu tandingan. Semua yang mereka lansir di media massa segera menjadi issu global, sementara bantahan dari ummat Islam hanya menjangkau kalangan terbatas.

Di balik komunitas media massa (yang sebagian dengan senang hati diperalat kepentingan fitnah itu), ada motor yang lebih inti lagi yaitu oknum-oknum pemikir dan akademisi di berbagai perguruan tinggi. Merekalah yang berperan utama dalam menciptakan isu-isu, analisa, memutar balikkan fakta sejarah, sekaligus mengembangkan pendekatan agar Islam yang hidup di berbagai belahan dunia, bukan lagi yang seharusnya. Mereka berperan besar juga mengubah cara berpikir sebagian pemikir dan tokoh-tokoh Muslim yang berpengaruh di negerinya. Orang-orang yang terpengaruh inilah yang kemudian menjadi perantara dan jembatan penghubung yang efektif dalam pencitraan Islam dan kaum muslimin.

Kegiatan kaum munafiq-intelijen sudah pula terjadi sejak zaman Nabi. Bedanya, permainan mereka kini jauh lebih canggih –termasuk dengan jebakan terhadap kalangan ummat Islam sendiri– sehingga jejak mereka sulit ditelusuri. Kuffar dan munafiq sudah sepanjang zaman bersatu, kompak, dan saling membahu jika niat dan tujuannya adalah mengalahkan Islam dan ummatnya.

Dan diantara kita
Cukup banyak yang tanpa sadar telah tergabung dalam jaringan ini, tapi banyak pula yang secara sadar melakukannya. Dan untuk membuktikan hal itu kita bisa memperhatikan sedikit saja dari issu-issu dan wacana yang diusung oleh berbagai kelompok mereka. Mereka menyerang sendi-sendi pokok pertahanan Islam, yaitu tata nilai dalam keluarga. Mereka juga menyerang syariat Islam dengan berbagai cemoohan. Mereka juga memperkenalkan tata nilai yang sama sekali bertentangan dengan tata nilai masyarakat Muslim.

Sampai saat ini mereka telah berhasil menjadi dirijen, yang melalui panduan dan arahannya semuanya mengamini. Segala yang disampaikan, baik yang berupa standar-standar kebenaran, bahkan nilai-nilai kebenaran itu sendiri dibenarkan oleh sebagian besar masyarakat. Hampir tidak ada kekuatan yang menolaknya. Ibarat air bah, issu yang mereka bawa menenggelamkan semua issu yang pernah ada.

Meskipun demikian….
Ummat Islam tak perlu berputus asa. Biarkan mereka mabuk dengan kemenangan semunya. Kita tidak boleh terlalu cemas menghadapi persekongkolan mereka. Allah telah membuka topeng mereka, bahwa persatuan dan kerjasama mereka itu sesungguhnya sangat rapuh. Kelihatan dari luarnya mereka itu bersatu, padahal jika sudah menyangkut kepentingannya masing-masing, antar mereka sendiri terus berkelahi.

Percayalah, jika kita saat ini sesak nafas menghadapi ulah dan tindakan mereka, sesungguhnya mereka jauh lebih sesak nafas lagi dibandingkan kita. Rasa benci dan permusuhan telah memenuhi seluruh rongga dada mereka, oleh karenanya mereka jauh lebih sengsara dan lebih berat tanggungan bebannya.

Sesungguhnya nafas mereka saat ini tersengal-sengal kelelahan menghadapi kebangkitan Islam. Berbagai strategi, taktik, dan teknik telah mereka lancarkan, tapi jumlah ummat Islam tidak semakin berkurang, dan para aktivisnya cenderung terus mengalami peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Jika kita hampir frustrasi menghadapi mereka, ketahuilah bahwa mereka sesungguhnya sudah lama frustrasi menghadapi kita.

Sekali lagi, persoalan-persoalan eksternal sesungguhnya tidak terlalu sulit dan pelik. Al-Quran menjelaskan bahwa pokok persoalannya terletak pada kita sendiri, bukan pada mereka. Semua persekongkolan jahat mereka sesungguhnya bisa kita atasi dengan ukhuwwah, persatuan, kerjasama, dan saling melindungi diantara kita. Selama berkah dan lezatnya ukhuwwah belum bisa kita jalin di antara sesama kita, jangan harap tangan Allah membuat berantakan persekongkolan mereka.

Zaman ada di tangan kita….
Pilihannya merebut kendalinya dengan sungguh-sungguh merapatkan shaf, atau membiarkannya di tangan para penjahat dengan sibuk urusan sendiri. Na’udzu billaahi min dzaalik

Wallahu’alambishawab, Bogor 14 Okt 08
Dikutip dari tulisan Hamim Thohari
Redaktur senior Majalah Hidayatullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: