Oleh: ramdhany | Agustus 21, 2008

Berapa Guru Yang Tersisa?

Jepang…
Negeri di Asia Timur, yang mungkin hampir semua kita tahu track record-nya. Negeri yang lewat nasionalisme sektariannya merasa diri besar dan berusaha menguasai dunia. Di pagi hari, 8 Desember 1941, pesawat dan kapal selam Jepang mengadakan serangan mengejutkan pd pangkalan militer AS.

Dan Amerika…
Kemudian membalas dengan serangan telak, berupa pemboman dua kota penyangga ekonomi Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Dua kota itu hancur, dan Jepang terhenyak lalu mundur teratur. Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Bala tentara Jepang akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang. Seluruh pasukan yang masih tersisa ditarik kembali. Jepang benar-benar luluh lantah, terkulai lemas tak bertenaga. Bisa dibayangkan, sendi ekonominya hancur berkeping-keping. Keadaan semakin runyam dan rumit setelah dua kota itu hancur.

Namun, akhirnya Jepang mampu bangkit lagi…
Dari keterpurukan yang diciptakan oleh perang. Pertanyaan yang pertama kali terlontar dari Kaisar Jepang ketika mendengar kehancuran dua kota itu, bukanlah tentang jumlah panglima perang atau amunisi yang tersisa. Justru adalah, “berapa guru yang masih ada?”.

Dan memang jika dirunut ke belakang, sebetulnya salah satu kebangkitan Jepang ini memang dipengaruhi satu prinsip, yaitu mereka menempatkan ilmu dan pengetahuan dalam posisi penting sejak zaman Restorasi Meiji.

Restorasi ini berkonsentrasi di bidang pendidikan, yaitu mengubah sistem pendidikan dari tradisional menjadi modern. Programnya antara lain wajib belajar, pengiriman mahasiswa untuk belajar ke luar negeri, dan meningkatkan anggaran sektor pendidikan secara drastis. orientasi terhadap ilmu pendidikan harus menjadi perhatian serius.

Bercermin pada Jepang, Restorasi Meiji yang memberi kesempatan belajar pada anak bangsanya secara luas. Sektor pendidikan harus menjadi prioritas pertama dalam pembangunan bangsa. Kaisar Hirohito juga pernah memerintahkan kepada ibu-ibu korban perang agar segera membentuk bun-ko, yaitu perpustakaan kecil di setiap RT. Selain peraturan negara, masyarakat juga proaktif secara mandiri membentuk “alat produksi” pengetahuan itu.

Dan negeri Indonesia…
Tampaknya apa yang telah dilakukan Kaisar Meiji ketika itu adalah suatu keberanian yang nampaknya belum terpikirkan oleh para pemimpin kita saat ini. Buktinya, anggaran pendidikan 20 persen hanya berhenti di kertas konstitusi.

Dan kini memang Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan permohonan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) agar pemerintah memenuhi anggaran pendidikan minimal 20 persen di APBN. Keputusan tersebut telah ditegaskan MK saat sidang pembacaan putusan uji materiil anggaran pendidikan dalam UU No 18/2006 tentang APBN 2007 pada Hardiknas 2007 lalu. Artinya, pemerintah harus segera merealisasikan dalam APBN, sebagai langkah strategis pencerdasan anak bangsa.

Sambil kita terus berperan aktif, kita tunggu juga langkah pemerintah, apakan akan ada realisasi atau hanya sekedar ilusi.

Wallahu’alambishawab
Cibinong, 21 Agustus 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: