Oleh: ramdhany | Mei 17, 2008

Langit Tak Selalu Cerah

Hidup kadang tidak selalunya indah
Langit tak selalu cerah

Suram malam tak berbintang
Itulah lukisan alam
Begitu aturan Tuhan

Jalan memang tak selalu licin tak berpenghalang. Ada saja batu dan kerikil, ada saja aral dan rintang yang menghadang. Dan tapak kaki kerap lunglai dan teluka, terjungkal dan terjatuh. Dan lengan yang terbentur dahan di kanan kiri.

Yang pertama dan utama dalam kerat kesulitan, dalam jengkal kerumitan adalah ruang kesabaran, ketawakalan pada Sang Penguasa semesta alam. Inilah saat-saat di mana kesabaran menjadi penenang, penjernih, dan pereda kegalauan hati dan pikiran. Kesabaran menjadi kebutuhan dan senjata saat kondisi begitu runyam dan berbelit, saat keteguhan dan ketekunan begitu sulit dihargai, saat penantian dan pengharapan begitu mudah disia-siakan.

Sungguh…
Allah beserta orang-orang yang sabar, yang menahan ketergesa-gesaan, menahan prilaku dan tindakan sporadis yang fatal. Inilah sandaran seorang muslim, saat kondisi rumit tak lagi menyediakan sandaran kokoh lagi kuat, saat pandangan begitu sempit dan pragmatis. Allah menyediakan tempat berlindung, bersandar di saat lelah payah, mengadu dan memohon. Tak ada lagi sekat dan batas, kapanpun bisa datang dan bersimpuh.

Sehebat apapun kesulitan, sedalam apapun kerunyaman, ruang ketenangan dan kenyamanan tetap ada dalam pikiran yang teduh, pandangan yang sejuk, dan perkataan yang indah. Tak ada ketenangan dalam jiwa yang galau, tak ada keteduhan dalam pikiran yang sempit lagi gelap. Saat ujian datang, saat cobaan dan musibah tiba, itulah saat di mana cahaya dan pelita kesabaran begitu berarti dan bermanfaat. Inilah cahaya kesabaran yang memungkinkan kita untuk tetap jernih dalam memandang hidup dan kehidupan, untuk tetap teguh dan optimis dalam mengarungi kesulitan dan kerumitan, sedalam apapun tantangan, setinggi apapun rintangan.

Namun tak sedikit orang yang begitu terpaku dalam sikap mengeluh dan menggerutu, terus berbicara, berteriak, tanpa kesabaran, tanpa ketenangan, dan tanpa amal yang solutif. Tak ada yang berubah dan berpindah, masalah tetap menjadi masalah, kegagalan tetap mejadi kegagalan, dan kejatuhan tetap menjadi kejatuhan. Dan mengeluh, tak mengubah apapun, barang sedikit dan sejengkal.

Dan bilakah awan mendung itu datang…
Selaiknya bisa mejadi pelajaran dan hikmah, bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah, yang bisa saja terpeleset dan terjatuh, terkulai dan terjungkal, dan bahkan tergores dan terluka. Inilah pertanda bahwa kita membutuhkan doa dan pengharapan, kepada Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan kita pun membutuhkan sikap sabar dan keteguhan, untuk dapat tetap berdiri, tetap berfikir dan beramal, untuk terus memperbaiki diri dan lingkungan, keluarga dan masyarakat.

Wallahu’alambishawab
Bogor, 25 April 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: