Oleh: ramdhany | April 3, 2008

Ghawzul Fikrah

Mungkin ada benarnya sebuah idiom ghawzul fikrah
Kalau ingin menghancurkan sebuah ummat, sebuah peradaban, maka hancurkanlah para pemudanya. Berikanlah kesenangan dan kemewahan hingga mereka lalai dan lupa. Menghabiskan tiap detik waktunya hanya untuk kesenangan yang melenakan hingga tak lagi berfikir tentang kemaslahatan ummat dan dirinya.

Berikanlah fasilitas dan akses, yang di dalamnya ada daya pikat yang memabukkan, hingga mereka (para pemuda) tenggelam dalam debu-debu kemalasan, dan terlena dalam hingar dunia yang tak berujung. Dirinya lemah, pikirannya pendek, motivasinya lemah.

Pikiran dan hatinya terlupa akan hakikat hidup dan kehidupan, terlupa akan realita (waqi’iyah) ummat yang tengah terjadi. Hanya mementingkan dirinya, memuaskan nafsu dunianya. Dan hingga akhirnya ia begitu cinta akan dunia (wahn) dan takut akan kematian. Ia semakin takut bergerak dan berjuang. Lebih mudah mencari alasan untuk lalai ketimbang kekuatan untuk taat.

Kalau kondisi ini semakin banyak dan terus merambah kepada berbagai tempurung kepala para pemuda, maka bisa dibayangkan berapa banyak waktu-waktu potensial terbuang tanpa hasil, berapa banyak tenaga-tenaga unggul yang hanyut, terbelenggu rantai kemalasan, kebodohan, dan kelengahan. Tak terhitung berapa banyak harapan masyarakat, bangsa, dan ummat yang menguap, melanglang tanpa kenyataan.

Banyak hal yang dilakukan oleh pengusung-pengusung ghawzul fikrah untuk menghancurkan generasi muda, menjauhkan mereka dari nilai-nilai Qur’an yang suci, melemahkan produktivitas dan kerja. Mulai dari pakaian, tontonan, media, hingga permainan dan gaya hidup. Inilah sebahagian panah-panah yang dihembuskan. Yang racun di dalamnya terasa lembut dan manis, hingga nasihat begitu sulit masuk dalam jiwanya, hanya seperti angin yang berhembus dan berhembus, dari kanan ke kiri, tak ada sisa, tak ada berkas.

Jangan lagi bermimpi untuk membangun sebuah kekuatan jikalau batu bata yang ada di dalamnya begitu lemah, rapuh, dan mudah hancur. Keimanannya lemah, hatinya kering, ibadahnya ringkih. Mata tak lagi terjaga, lisan tak lagi tertata, dan hati tak lagi teduh. Mata yang lebih mudah terjaga saat pertandingan kesebelasan favorit berlaga ketimbang bersegera saat adzan berkumandang, lebih ringan bergadang hingga pagi datang ketimbang berdoa di waktu sahur tiba. Sulit rasanya membayangkan nafas perbaikan akan muncul dalam jiwa yang lemah, dalam pribadi-pribadi yang rapuh. Saat kata-kata tak lagi berwibawa, saat kepribadian tak lagi disegani.

Inilah ghawzul fikrah, yang telah menyerang ke berbagai sudut, ke berbagai tempat, tak kenal usia, tak kenal orang desa atau kota, pelajar, mahasiswa, atau orang kantoran. Bisa terlihat orang-orang desa dengan mode pakaian yang minim, atau pelajar dengan sebatang rokok di celah jarinya, atau mahasiswa yang terbiasa mengcopy kanan dan kiri. Di saat itulah di mana karya-karya amoral dianggap seni, saat hedonisme dianggap gaya hidup. Inilah kerusakan yang terjadi, kerusakan demi kerusakan, kehancuran demi kehancuran.

Semoga Allah melindungi kita dari tiap jengkal keburukan
Memberikan keteguhan dan ketenangan hati

Wallahu’alambishawab
29 Maret 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: