Oleh: ramdhany | Maret 27, 2008

Berlapang Dada

Ya Allah…
Lapangkan dadaku
Dan mudahkan segala urusanku
Jangan goyahkan hati-hati kami
Setelah Engkau beri petunjuk

Limpahkan kepada kami kasih sayangMu
Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi

Dengan semakin mengenal da’wah seharusnya hati mejadi semakin dekat dengan Allah, jiwa menjadi semakin teduh, ilmu menjadi semakin dalam dan bermanfaat. Dengan da’wah yang muntijah, sepatutnya perbaikan demi perbaikan terus berjalan. Pribadi menjadi semakin arif, mata semakin terjaga, lisan semakin tertata, azzam menjadi semakin kuat, dan dada menjadi semakin lapang. Masyarakat dan lingkungan semakin terbantu dengan kehadirannya.

Tapi dalam realitanya, tak sedikit suara gaduh yang terus membuat suasana kian panas, berjalan tanpa arah. Suara-suara yang mengatas namakan da’wah tapi isinya hanya gunjingan dan tuduhan, mencaci dan mencakar, menggerus dan menggoyahkan sendi-sendi. Para ulama, mujtahid, dan sekian banyak kafilah da’wah terus disudutkan. Perbedaan tidak lagi disikapi dengan hati dan pikiran yang lapang, tapi dimaknai dengan pikiran dan mentalitas yang benar-benar tak siap menjadi pribadi yang besar.

Tak pernah terbayangkan, bagaimana jadinya bilamana kafilah akan berjalan bila isinya hanya orang-orang yang hanya senang berdebat ketimbang beramal, yang menumpuk-numpuk ilmu yang tanpa kerja nyata, yang merubah kerja dengan kata. Padahal ilmu adalah penuntun amal, amal yang terbaik.

Kita tak ingin melihat pemandangan ashabiyah terus membudaya, sikap menghakimi, mencela tanpa arah, jiwa yang menyudut-nyudutkan tanpa tabayun, dan lisan yang begitu gemar berdebat tanpa batas akan hal-hal yang memiliki perbedaan ijtihadi, terus terjadi di kalangan kaum muslimin.

Kita juga tak lagi ingin melihat orang-orang yang mengaku ulama tapi sikap dan tindakannya jauh dari keteladanan. Hanya karena merasa memiliki pendukung yang banyak lantas ucapannya keluar seolah tanpa dipikir matang-matang, tak peduli kanan dan kiri.

Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Seharusnya dan memang sepatutnya, ummat Islam bisa menjadi contoh khairu ummah bagi ummat-ummat yang lain. Ummat yang menyebarkan kedamaian, bukan ummat yang saling membunuh dan berperang antar mereka. Ummat yang bersaudara dan saling menyayangi bukan ummat yang saling memusuhi dan saling menjatuhkan atas nama golongan. Ummat yang saling menolong dalam ketaqwaan bukan ummat yang saling menolong dalam permusuhan.

Simaklah nasihat imam asy syahid Hasan Al Banna rahimahullah
“Ukhuwah adalah saudara keimanan dan perpecahan adaah saudara kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar.”

Sekarang bukan masanya lagi kita saling bermusuhan. Banyak pekerjaan yang harus kita hadapi. Perbedaan ijtihad dalam da’wah bukanlah alasan untuk menyalahkan, melainkan untuk saling melengkapi. Indahnya ketika semua gerakan da’wah bersatu, menentukan target utama perjuangan da’wah untuk menyelamatkan kemiskinan, membersihkan negeri dari kezaliman demi kezaliman, membangun ummat menjadi kokoh dan berwibawa, dan banyak lagi pekerjaan lainnya. Tidak ada solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan kecuali bersatu dan bersinergi.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Al Imran: 110)

Wallahu’alambishawab
27 Maret 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: