Oleh: ramdhany | Maret 9, 2008

Harta, Tahta, dan Moralitas

Ketika sebuah masyarakat tak lagi menghargai
moralitas, maka yang paling terkena dampaknya secara
luas terhadap kehidupan adalah jagat politik. Makna
substantif politik adalah moralitas. Karenanya, jagat
politik tidak dapat dipisahkan dari moralitas. Politik
tanpa moralitas akan kehilangan esensinya yang paling
fundamental. Jika ia telah kehilangan esensinya maka
politik akan menjadi mesin penghancur yang sangat
efektif bagi semua tata kehidupan.

Moralitas dalam jagat politik adalah kapasitas yang
dapat membedakan kebijakan, tindakan, dan perilaku
politik yang benar dan yang salah. Atas dasar
perbedaan itulah semestinya para politisi bertindak
dan berperilaku. Selanjutnya dengan moralitas itu pula
mereka merasa mendapat penghargaan diri ketika dapat
menerapkan standar itu pada kebijakan dan perilaku
politik mereka. Sebaliknya merasa bersalah atau
setidak-tidaknya malu ketika melanggar standar.

Sejarah membuktikan, suatu bangsa yang kehilangan
moralitasnya, maka perjalanan politik bangsa tersebut
menyimpang dari tujuan dan nilai luhurnya. Konsekuensi
logisnya, kebijakan, tindakan, dan perilaku politik
bangsa tersebut akan didominasi oleh upaya-upaya
merebut tujuan yang rendah. Tak lebih dari; tahta
(kekuasaan) dan harta (kekayaan). Tahta dan harta yang
kosong dari moralitas akan menjadi dua sayap yang
saling mengepak mengarahkan semua kebijakan, tindakan,
dan perilaku politik. Mengekalkan kekuasaan dan
mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya.

Demikian pula halnya sebuah partai. Ketika di sebuah
partai terjadi kekosongan moralitas maka yang akan mengisi dan
mendominasi filosofi perjuangan, platform,
jargon-jargon, dan produk-produk kebijakannya adalah
merenggut kekuasaan dan kekayaan materi. Selanjutnya
tahta dan harta akan menjadi tujuan utama partai dan
sekaligus menjadi ukuran keberhasilan perjuangan.

Standar kualitas kontribusi anggotanya tidak lagi
didasarkan kepada komitmennya terhadap nilai ideologis
melainkan kepada kemampuan dirinya dalam menggerakkan
mesin politik untuk meraih atau mempertahankan
kekuasaan dan mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya.
Akibatnya terjadi konspirasi untuk dua kepentingan:
kepentingan merengkuh kekuasaan dan kepentingan
mereguk kekayaan.

Keadaan seperti itu sangat berpotensi
mengembangbiakkan kejahatan politik yang dapat
mengakibatkan dunia politik didominasi dan diarahkan
para penjahat politik yang saling berkomplot. Para
politisinya berlomba-lomba memburu kekayaan untuk
kekuasaan dan menggunakan kekuasaan yang diraihnya
sebagai mesin pengeruk kekayaan. Mereka saling
berkonspirasi untuk kepentingan itu. Rakyat adalah
pihak yang selalu menjadi mangsa konspirasi.

Akibat semua itu, kehidupan bangsa atau masyarakat
berputar-putar dalam lingkaran setan antara memburu
kekayaan untuk kekuasaan dan menggunakan kekuasan
untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Tak ubahnya seorang
individu yang telah mengalami kekosongan dari
mengingat pengajaran-pengajaran Ilahi yang menyebabkan
dirinya terkurung dalam lingkaran setan sebagaimana
difirmankan Allah Swt

“Barangsiapa yang berpaling
dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran),
kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka
setan itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya” (QS. Az Zukhruf: 36)

Ketika seluruh perangkat politik, mulai struktur,
produk kebijakan, sampai perilaku politiknya
dikerahkan untuk merengkuh tahta dan harta tersebut,
maka persepsi tentang tahta dan harta menjadi
melenceng dari konsepnya yang genuine yang
mengakibatkan membiaknya ambisi gandrung tahta dan
harta. Pada umumnya proses pembiakan itu berjalan
sangat cepat merasuki pikiran dan emosi kalangan
penentu kebijakannya.

Dengan mengesampingkan moralitas, orang atau suatu
bangsa yang sangat gandrung harta akan cenderung
menghalalkan segala cara demi mempertahankan atau
meraih tahta, karena kekuasaan telah dijadikan jalan
lapang untuk meraup harta sebanyak-banyaknya. Demikian
pula orang atau suatu bangsa yang gandrung tahta, akan
cenderung memperbolehkan segala cara asalkan bisa
memperoleh dan mengumpulkan harta kekayaan. Sebab,
harta dapat melapangkan jalan memperoleh kekuasaan.

Moralitas dalam jagat politik dapat melahirkan wajah
kekuasaan yang sangat ramah dan manusiawi. Perhatikan
sikap Umar bin Abdul Aziz ketika memangku kekuasaan
sebagai khalifah. Begitu ia dilantik sebagai khalifah,
yang pertama dilakukannya adalah memanggil istrinya,
dan meminta agar emas permata yang diwarisi dari
orangtuanya dikembalikan ke Baitulmal sebagai milik
negara. Moralitas juga melahirkan wajah kekayaan
(harta) yang penuh kemanusiaan.

(Wallahu’alambishawab)
Dikutip dari tulisan Ust. Abu Ridha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: