Oleh: ramdhany | Februari 28, 2008

Keteladanan

Hidup memang tidak sendiri, kita hidup bersama banyak orang. Ada yang lembut perangainya, dan pula ada yang keras, ada senang tertawa, dan pula ada yang senantiasa serius. Kita berada dalam masyarakat yang beragam, hidup yang berwarna-warni. Rambut bisa saja sama hitam, tapi cakrawala bisa jadi akan sangat berbeda.

Inilah realita masyarakat kita, masyarakat beragam yang masih menyimpan harapan untuk bisa lebih baik. Untuk terlepas dari cengkeraman korupsi, kolusi, nepotisme, untuk bisa melihat taman negeri ini lebih indah dilihat, yang anak-anaknya bisa tertawa riang, bersekolah dengan penuh semangat, yang bisa melihat stasiun-stasiun kereta yang lebih rapi, lebih bersih, yang bisa melihat jalan-jalan raya yang tertata, jauh dari kesan kumuh, yang penuh asap berdebu.

Kita memang harus cerdas dan bijaksana. Ini adalah negeri yang besar, yang luas, penduduknya begitu banyak, kekayaannya begitu melimpah. Dan cara kita dalam bersikap pun harus lebih cerdas, harus lebih bijak, dan harus lebih tertata dengan baik. Tak lagi bisa dengan cara-cara yang terlalu kaku, yang menggurui, yang selalu menganggap orang lain salah, dan kita yang benar.

Dan keteladanan…
Adalah satu dari sekian pilar penting dalam memberikan nilai yang baik di masyarakat. Untuk membangun masyarakat yang madani, masyarakat yang Rabbani. Keteladanan adalah bahasa tanpa kata, tabligh tanpa suara. Keteladanan menjadi sangat penting, saat banyak orang begitu mudah menebar janji, saat banyak orang begitu mudah menuduh, mengkritisi tanpa kearifan. Keteladanan adalah bahasa yang menyejukan, tanpa harus berlelah payah berbicara, tanpa harus bersusah payah beradu lisan tanpa ujung.

Keteladanan yang baik akan muncul dari hati yang bersih. Dan hati yang sakit, hanya akan memberikan cermin yang sakit kepada yang lainnya. Hati yang baik kelak akan mencerminkan lisan santun, pandangan yang teduh, dan sikap yang tertata. Dan hati yang lalai, hanya mampu menerawang dan berangan-angan panjang. Mata yang memandang tanpa batas, lisan yang berujar tanpa dijaga, hati yang mendesir ke kanan dan ke kiri.

Hidup, memang terlalu gersang kalau hanya diisi dengan prasangka-prasangka yang buruk, pandangan yang merendahkan, dan lisan yang menyakiti. Jangankan mendengarkan kata-katanya, mendekat dengannya saja sudah tidak nyaman, hati menjadi gelisah, apalagi mendengar kata-katanya yang menusuk sendi-sendi.

Berbeda dengan pribadi yang santun, ia akan menjadi cahaya di manapun. Di tempat gelap ia menerangi, dan di tempat terang ia semakin bercahaya. Ia kan menjadi anak yang baik untuk orang tuanya, teman yang ramah bagi kawannya, dan pemuda yang santun untuk lingkungannya. Kata-katanya menjadi tenang dan sejuk, pandangan mata menjadi ramah dan menyenangkan.


Dan jadilah seorang muslim
Yang apabila orang lain mendekat
Maka ia kan merasakan indahnya Islam

Wallahu’alambishawab
Bogor, 27 02 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: