Oleh: ramdhany | Februari 2, 2008

Gaza

Jikalah…
Engkau tinggal di dalam rumah
Dalam pintu yang tertutup rapat
Tak ada lampu yang menerangi
Tak ada air yang mengaliri

Engkau diam dalam sepi…
Hanya segenggam makanan yang tersimpan
Dan hanya seteguk air yang tersisa

Engkau hidup seolah dalam keterasingan
Berteriak sekuat tenaga
Namun tak ada tetangga yang bergerak

Hati siapa yang takkan pilu…
Bilakah terasing dalam keramaian
Saat telinga-telinga tersumbat nafsu yang membuncah
Saat mata tertutup hawa dunia yang tak berkesudahan

Mereka adalah tetanggamu…
Dan bahkan saudaramu
Mereka punya mata yang bisa melihat
Punya telinga yang mampu mendengar
Dan punya kaki yang mampu melangkah

Mereka sangat tahu engkau menderita
Mereka pun paham
Bahwa engkau berada di ujung tanduk kematian

Dan inilah dunia…
Yang lebih hina dari seonggok bangkai
Saat tak ada lagi persaudaraan yang sejati
Saat tak ada lagi persahabatan yang tegak berdiri
Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi

Dan bilakah…
Engkau hidup di bumi Gaza
Maka seperti inilah engkau hidup

Engkau hidup dalam keterasingan…
Tertutup tembok gagah di kanan kiri
Engkau hidup tanpa listrik dan sedikit air
Bertemankan lapar dan gelap di malam hari

Berteriaklah dengan kuat…
Dan tetangga mana yang mau membukakan pintu untukmu
Adakah tetangga sebelah barat mau membukakan
Padahal ia bukan hanya sekedar tetanggamu
Tapi bahkan ia adalah saudaramu

Adakah tetanggamu yang kaya raya
Yang bahkan kilang minyaknya bertebaran di sana sini
Mau berbagi listrik dan air bersamamu
Padahal ia bukan hanya sekedar tetanggamu
Tapi bahkan ia adalah saudaramu

Duhai engkau…
Inilah manusia
Yang seolah tak pernah sadar
Dari apa ia diciptakan
Dan kepada siapa ia dikembalikan

Inilah manusia…
Yang kerap berkeluh kesah saat kesulitan datang
Dan lupa bersyukur saat kelapangan datang

Duhai engkau…
Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu
Sekalipun berjuta-juta mata tak pernah peduli padamu
Sekalipun berjuta-juta telinga enggan mendengarmu
Aku berharap
Engkau masih memiliki aku
Yang masih mau melihatmu
Yang masih mau mendengarmu
Dan masih sanggup mengulurkan tanganku
Meski tanganku lemah, kecil
Dan terlampau kecil untuk mengangkat

Duhai engkau…
Aku mencintaimu
Karena Allah
Rabbul ‘Izzati

Wallahu’alam bishawab
Bogor, 31 Jan 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: