Oleh: ramdhany | Januari 31, 2008

Paradoksal

Inilah bangsa yang ramah…
Saat perkelahian terjadi di mana-mana
Tarik ulur urat saraf terjadi di sana-sini
Hanya untuk sebuah kursi di gedung dewan

Inilah negeri yang bersih dan indah…
Yang setiap hari sungai semakin hitam pekat
Sampah terpelanting di sudut-sudut kali
Terserak berhamburan di parit-parit hitam

Inilah negeri yang santun…
Saat penggusuran terjadi di sana-sini
Dengan pentungan dan seragam militer sebagai senjata
Menghardik
Memandang dengan pandangan yang tajam
Mnghancurkan tanpa etika
Seperti barbar yang sedang turun gunung
Seolah hati sudah membeku
Seolah jiwa sudah terhunus

Inilah negeri yang terpelajar…
Saat bersekolah menjadi barang langka nan mahal
Laiknya barang langka di dalam museum
Yang hanya dilihat dan ditatap
Tanpa disentuh dan dimiliki

Gedung sekolah jatuh bangun di sana-sini
Pecah atapnya
Retak temboknya
Dan sudah banyak cerita
Tentang gedung sekolah yang terjatuh hancur berantakan
Seperti lagu sendu yang mengalir tanpa didengarkan
Di tengah tingginya gedung pencakar yang melangit
Di tengah gagahnya gedung dewan yang hijau merona

Inilah negeri yang yang saling menanggung…
Antara pemimpin dan yang dipimpin
Saat busung terjadi di sana-sini
Saat kakek tua tergulai lemas di sudut kota
Menatap sayu taman negeri ini

Pemimpin yang bermobil mengkilat
Dengan uang saku yang amat dan teramat tebal
Dengan tunjangan di sana-sini
Fasilitas terserak di kanan-kiri
Menginap di hotel
Meskipun sudah punya rumah dinas

Padahal rakyatnya sedang menjerit
Yang seolah hanya angin yang sedang berlalu
Kaum gelandangan yang semakin sayu
Lelaki tua renta yang berjuang bermandi keringat
Mencari nafkah untuk keluarga
Menghidupi anak-anak yang sudah diamanahi

Inilah negeri yang tertib lagi teratur…
Saat angkutan kota berhenti di mana saja ia mau
Saat bus-bus kota saling sikut menyikut mencari penumpang

Yang seolah tanpa bersalah…
Berdagang dan berjualan di trotoar pejalan kaki
Di peron-peron kereta api
Seolah wajah tak lagi punya rasa malu
Seolah hati tak lagi punya rasa peduli
Bahwa pejalan kaki pun ingin berjalan dengan tenang
Tanpa dibuntuti rasa waspada tertabrak kendaraan
Bahwa penumpang pun ingin nyaman dalam stasiun kereta
Menunggu dan naik kereta dengan aman dan tenang

Inilah bangsa yang indah…
Saat fatwa-fatwa ulama hanya disimpan dalam buku-buku tebal
Seolah tak dilihat dan dihargai
Betapa banyak wajah yang sibuk berdagang di pasar
Hingga waktu-waktu shalat begitu mudahnya ditinggalkan

Saat gedung pencakar begitu tinggi
Begitu indah di pandang mata
Dengan ruang kerja yang nyaman
Dengan AC di kanan kiri
Jendela yang tersusun rapi

Dan mushalla…
Dan ruang shalat
Rumah Allah
Tempat bersujud dan meminta
Tergelatak di ruang bawah tanah
Di sudut lahan parkir
Tanpa kondisioner
Tanpa dinding anggun yang menghiasi
Kendaraan melaju di kanan kiri
Asap mengepul

Ia hanya dihijab pembatas kayu yang pendek
Dengan alas karpet yang sekedarnya
Di tengah redupnya cahaya basemen parkir
Lantas, di mana Tuhanmu kau tempatkan?

Dan inilah taman negeri ini
Dan seperti inilah bangsa ini
Bangsa yang paradoksal

Wallahu’alam bishawab
Bogor, 31 Jan 08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: