Oleh: ramdhany | Januari 28, 2008

Mush’ab bin Umair

Bismillahirrahmaanirrahim….
Innalhamdalillah hamdan kastiran kama amr, hamdan yambagilijalali wajhihil karimi wa’dzimi shulthanik. Asyahadualla ilaaha illallah wahdahula syarikalah syahadahu siddiqul haqq, wa asyhaduanna muhammadan abduhu warusululuhu naba ‘asyrahmatallil ‘alamin.

Summa jazalllahi khairan katsir untuk kehadirannya di majelis ini, semoga Allah senantiasa memberkahi. Dan semoga kita semua berada dalam kelapangan hati, kebersihan jiwa, ketenangan pikiran, dan keuluhuran budi. Semoga pula kita selalu bersemangat untuk senantiasa berusaha berada dalam lingkaran kebaikan, lingkaran tarbiyah, saling menguatkan bila ada yang lemah, saling menanggung, saling menjaga dan memberi, saling bersilaturahmi dan berbagi. Salawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah Muhammad bin Abdillah saw, kepada keluarga, sahabat, juga ummatnya yang insya Allah istiqmah di jalanNya.

Amma ba’du
Ikhwah sekalian, insya Allah kali ini kita akan membahas tentang Mush’ab bin Umair yang mungkin ini sudah banyak dibahas dan dikaji di berbagai buku, di banyak media, dan mungkin juga sudah banyak di bahas di banyak kesempatan. Dan insya Allah tidak ada salahnya jikalau kita kembali membahas peri-hidup, perjuangan, dan pengorbanan beliau (Mush’ab bin Umair).

Akhi sekalian…
Mush’ab bin Umair sangat dikenal sebagai duta Islam yang pertama, yakni di bumi Yatsrib (Madinah). Mush’ab adalah seorang Makkah yang dikaruniai Allah penampilan fisik yang baik (tampan), berasal dari garis keturunan bangsawan, kaya raya (secara materi), dan sangat dimanja oleh orang tuanya. Ia menjadi buah bibir kebanyakan penduduk Makkah. Ia hidup dengan taraf hidup di atas rata-rata masyarakat saat itu, bahkan sangat diperhatikan dan disayangi oleh ibunya, Khunas binti Malik.

Hingga tibalah Islam di bumi Makkah, menjadi berita dan kabar yang menyeruak ke penjuru Makkah. Dan Mush’ab adalah salah satu yang mendengarnya, melihat gerak-gerik orang-orang yang memperbincangkan hadirnya Islam. Ia berangkat ke majelis di rumah Arqam, ia pelajari, pahami, dan renungkan. Singkatnya, ia masuk dalam Islam, bersama para sahabat lainnya.

Kelak, ia diusir orang tuanya, meninggalkan hidup melimpah, melupakan nasab kebangsawanannya. Meninggalkan keluarganya, meninggalkan ibu yang menyayanginya. Ia bahkan hanya memakai baju lusuh yang banyak tambalannya, makan di satu hari, dan berlapar-lapar di beberapa hari berikutnya. Dan dalam perjalanan berikutnya, ia diamanahkan Rasulullah saw untuk berdakwah di bumi Yatsrib (Madinah). Ia mendapati kaum muslimin di sana tidak lebih dari 12 orang (yakni yang telah berbaiat di bukit Aqabah). Di Madinah, ia mengunjungi kabilah demi kabilah, rumah demi rumah, dan tempat-tempat pertemuan. Ia menyampaikan da’wah dengan bijak, dengan hati-hati. Dan dalam perkembangannya, Mush’ab (relatif) sukses menyebarkan da’wah di Madinah.

Hingga tibalah satu pertempuran Uhud…
Inilah peperangan yang muncul akibat kedengkian kafir Quraisy. Perang ini berjalan begitu sengit, begitu berkecamuk, hingga didapatilah pasukan pemanah yang kurang taat akan perintah Rasul saw. Dan keadaan berbalik, membantai kaum muslimin yang kacau balau dan porak poranda.

Dan Mush’ab…
Ia melindungi Rasulullah dari serangan mendadak kafir Quraisy. Dan tertebaslah tangan kanannya hingga terputus, disusul tangan kirinya yang segera ditebas oleh pasukan kafir Quraisy, dan di serangan ketiga ia ditombak hingga tombak itu patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera pun jatuh. Ia gugur sebagai syuhada, insya Allah.

Ikhwah rahimakumullah
Inilah peri-hidup Mush’ab bin Umair, peri-hidup yang mungkin sangat perlu diteladani di saat seperti ini. Ia memiliki kekuatan yang kokoh, keteguhan yang kuat. Ia menukar kehidupan dunianya, kemewahan hidupnya. Inilah Mush’ab, yang insya Allah mudah-mudahan bisa kita ambil ibrah di dalamnya.

Akhi anak-anakku sekalian…
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah dan perjalanan hidup Mush’ab bin Umair, pelajaran yang insya Allah akan mengajarkan kepada kita semangat dan pengorbanan.

Pelajaran pertama adalah bahwa dibutuhkan kelapangan dada untuk menerima sebuah titik hidayah. Inilah yang dapat kita lihat di awal kisah Mush’ab. Ia memiliki hampir semua atribut keduniaan, ia memiliki paras yang baik (tampan), ia memiliki nasab yang bangsawan, keluarga yang menyayangi dan memanjakannya, kekayaan yang melimpah, kehidupan yang megah, dan popularitas yang tinggi. Dan di balik kemegahannya itu, ia juga memiliki kelapangan dada, kebersihan hati, untuk menerima kebenaran (saat ia belajar bersama Rasul di rumah Arqam).

Dan tanpa kelapangan dada, kita bisa melihat betapa banyak orang-orang yang bergelimang dunia merasa angkuh menerima kebenaran. Kita pun bisa menyaksikan, pemuda dan pemudi yang dikaruniai fisik yang baik, yang tanpa kelapangan dada maka akan sulit memperbaiki dirinya dari khalwat, dari mengumbar nafsu dengan teman wanitanya.

Pelajaran kedua yang dapat kita petik adalah bahwa saat menerima Islam, Mush’ab rela melepas selainnya. Ia begitu rela melepas kehidupan serba cukup bersama keluarganya, ia rela berpakaian penuh tambalan, melepas popularitasnya, dan bahkan ia rela melepas ibunya, orang tua yang menyayanginya. Dan bahkan Rasulullah saw pernah menatap Mush’ab seraya bersabda

Dahulu….
Saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbanginya
Dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya
Kemudian ditinggalkannya semua itu
Demi cintanya kepada Allah dan RasulNya

Dan pelajaran ketiga yang dapat kita ambil adalah bahwa Mush’ab telah menjual dunianya kepada Allah swt. Ia memiliki begitu banyak kenikmatan dunia, ia punya fisik, nasab, keluarga, ketenaran yang sangat melimpah ruah. Dan ia jual semuanya itu pada Allah, Yang Maha Memiliki. Inilah perdagangan, sebaik-baik perdagangan yang dilakukan. Yang Allah pun menggambarkannya dalam Al Qur’an surah At Taubah

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah:111)

Inilah yang digambarkan Allah, tentang perdagangan yang baik, kerelaan yang indah. Inilah yang dijelaskan Allah tentang orang-orang yang menjual dunianya, orang-orang yang dengannya rela berperang di jalan Allah, mereka membunuh atau mereka terbunuh. Dan inilah, inilah kemenangan yang besar.

Ikhwah yang dicintai Allah…
Ini adalah tentang pengorbanan, tentang kerelaan, tentang pembuktian tekad. Kita sama-sama bisa belajar dari Mush’ab, belajar tentang pengorbanan, tentang kezuhudan, ketenangan hati, tentang kesantunannya dalam da’wah, tentang kekuatan iltizamnya, tentang kekokohan ruhul istijabahnya. Kita bisa sama-sama menyaksikan, betapa ia rela berlapar-lapar, ia rela berbaju penuh tambalan, yang bahkan saat ia gugur pun, jasadnya hanya tertutup sehelai kain burdah, dan kakinya ditutup dengan rumput idzkir.

Mari sejenak kita lihat tentang Rasulullah saw, di saat melihat Mush’ab seusai perang Uhud….

Dan Rasulullah saw…
Berdiri di depan Mush’ab bin Umair
Dengan pandangan mata sayangnya
Ia membacakan surah Al Ahzab

“Di antara orang-orang mukmin terdapat pahlawan-pahlawan
yang telah menepati janjinya dengan Allah.” (QS. Al Ahzab: 23)

(Kemudian beliau saw memandangi burdah untuk kain tutupnya)

“Ketika di Makkah dulu…
Tak seorangpun aku lihat
Yang lebih halus pakaiannya
Dan lebih rapi rambutnya dari padamu

Tetapi sekarang ini…
Dengan rambutmu yang kusut masai
Hanya dibalut sehelai burdah”

Subhanallah, semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah dan perjalanan Mush’ab bin Umair. Amien. Wallahu’alam bishawab

Ust. E Syamsudin
Bogor, 27 Jan 08

Iklan

Responses

  1. salam kenal, terimaksih atas kunjungannya,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: