Oleh: ramdhany | Januari 25, 2008

Wirausaha yuk…

“Tipuan paling mematikan adalah dengan menampakan bagi kita bahwa berdiam diri karena takut salah seakan-akan lebih baik”

Sangat mengherankan…
Kalau ada pemuda
Yang merasa bahwa jalan sudah buntu
Harapan sudah berakhir
Untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Sangat mengherankan…
Kalau ada pemuda
Yang merasa lelah
Dan menggerutu tanpa arah
Betapa sulit mencari peluang dan harapan.

Padahal…
Jikalau mereka duduk di bawah terik matahari
Sambil menuliskan berbagai jenis pekerjaan
Berbagai jenis hobi
Berbagai jenis barang dagangan
Berbagai jenis profesi
Yang bisa dijalankan manusia
Mereka akan sangat mampu menuliskannya
Berlembar-lembar banyaknya

Jadi…
Untuk apa berputus asa
Untuk apa berpangku tangan
Segeralah beranjak
Segeralah bergerak

Berwirausaha…
Ibarat perjalanan menjelajahi hutan rimba, begitu banyak resiko, begitu banyak semak dan belukar. Ada jalan yang datar, miring, curam, dan bahkan tebing nan tinggi. Tidak banyak orang yang mau mengambil resiko, memilih berada dalam zona nyaman, zona tenang dan menentramkan, padahal tidak ada sesuatu pun yang tanpa resiko. Memulai sesuatu memang beresiko tapi tidak segera memulainya akan jauh lebih beresiko. Kita bisa melihat, berapa banyak orang yang takut gagal, takut mengambil jalan, takut mengambil resiko, dengan merasa takut dikritik, takut kehilangan kepercayaan diri, takut tidak dapat kesempatan lagi. Padahal (berdasarkan survei) 90% orang yang merasa gagal sebenarnya belum tentu gagal, hanya saja mereka begitu mudah menyerah.

Berwirausaha…
Juga ibarat perjalanan mengarungi lautan, menjelajahi riak air di sana-sini, melewati ombak demi ombak, dan angin yang menghempas. Ada begitu banyak resiko, ada begitu banyak tantangan. Berhadapan dengan resiko, bukan berarti hidup tanpa ilmu, gerak tanpa arah, perjalanan tanpa perhitungan. Segala sesuatunya perlu dihitung dan dikalkulasikan, meminimalkan resiko dan bahaya.

Betapa banyak orang yang hanya melihat kesuksesan hari ini, tanpa melihat kegagalan-kegagalan sebelumnya. Berapa banyak orang yang melihat tapak-tapak keberhasilan yang jauh melanglang, tanpa melihat tapak awal yang dilalui. Padahal tapak ke seratus, tapak ke seribu, dan tapak-tapak ke sekian akan selalu berawal dari tapak pertama, kedua, dan ketiga. Ibarat menulis, saat goresan pena pertama tergores maka goresan selanjutnya akan begitu mudah mengalir, hingga goresan-goresan yang jauh dan melimpah.

Sejenak, mari kita memahami beberapa tips untuk memulai wirausaha (diambil dari tips wirausaha aa gym). Jangan berkecil hati jikalau harus memulai dari yang kecil, karena kecil adalah modal untuk menjadi besar, jangan berpatah asa jikalau harus jatuh terpelanting, karena itu akan membuka peluang bagi kita untuk memantul ke atas lebih tinggi lagi. Berikut beberapa tips memulai usaha….

1. Modal Sendiri
Usahakan ketika kita memulai wirausaha dengan menggunakan modal sendiri. Jangan dulu pinjam modal yang berbunga, apalagi dalam jumlah besar, karena sekali jatuh bangkrut usaha, akan sangat lama terjerat utangnya. Usahakan dulu dengan menjual apa saja milik pribadi, namun tetap jangan terlalu besar dulu. Dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki juga akan semakin memperkuat tekad dan lebih membuat berhati-hati secara cermat dalam memutarkan modal yang ada.

2. Mulai dari Bawah

Persis seperti membangun sebuah bangunan kita harus sangat intensif memperlihatkan kualitas pondasinya dan bersungguh-sungguh membangun fondasi dengan baik karena akan menentukan kekokohan bangunan kelak. Jangan mengkhawatirkan bangunan bila fondasinya sudah sangat kokoh, mau dibuat variasi bagaimana pun akan menjadi sangat mudah. Berlainan halnya dengan rumah yang fondasinya buruk, seindah apapun variasi diatasnya, tetap saja akan ambruk berantakan. Oleh karena itu, jangan berlebihan, mulailah dari yang kecil-kecil, tapi lakukan dengan sangat hati-hati dan benar manajemennya.

3. Untung Pertama
Hati-hati jangan tergelincir dan tergiur sibuk dengan keinginan untung besar. Untung pertama bagi kita adalah punya kesempatan berpengalaman wirausaha dan keuntungan lainnya adalah membangun pondasi kepercayaan bagi orang lain terhadap diri kita. Betapa pun bisnis kita sangat pas-pasan atau bahkan tak untung uang namun jikalau kita semakin berpengalaman berarti sudah mendapat untung apalagi kalau orang lain semakin percaya kepada kita maka itu adalah investasi yang sangat menguntungkan untuk langkah selanjutnya.

4. Nikmati Proses
Jangan serba tergesa-gesa ingin cepat sukses, ingin cepat besar, karena setiap kesuksesan harus selalu diimbangi dengan perkembangan keilmuan, wawasan, dan sikap mental. Jadi, sama sekali bukan kesuksesan ketika tiba-tiba mendapat keuntungan berlimpah jikalau pondasi dari kita belum siap. Oleh karena itu, nikmatilah proses, termasuk jatuh bangunnya, karena tidak pernah ada kerugian bagi orang yang terus menerus belajar memperbaiki diri.

Kegagalan sesungguhnya adalah ketidakberanian memulai berbuat sesuatu. Karenanya, nilai kenikmatan berwirausaha bukan terletak pada hasilnya, tapi menikmati proses waktu demi waktu, episode demi episode, sungguh benar-benar menyenangkan menikmati proses pembangunan diri ini. Masalah keuntungan Insya Allah akan mengikuti dengan sendirinya.

5. Keuntungan yang Berkah
Apalah artinya kita mendapat keuntungan tetapi nama kita menjadi cemar? Apalah artinya dapat laba namun diri kita selalu dirundung resah gelisah? Apalah artinya uang menjadi banyak tetapi hati selalu merasa serba tidak cukup, kekurangan terus menerus? Nah, itulah gejala rizki yang kurang berkah. Sepatutnya kita mengetahui bahwa rizki yang berkah itu benar-benar membuat diri kita serba cukup, walaupun harta yang dimiliki tidak melimpah, tetapi batin selalu tenteram walaupun tidak segala ada, dan terlebih lagi kehormatan kita jauh terangkat melampaui kedudukan dan jumlah harta yang kita miliki, subhanallaah

“Dialah yang telah menjadikan bumi mudah digunakan untuk kepentingan kamu, maka berjalanlah pada penjuru-penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkinya dan kepada Allahlah kamu kembali.”(QS. Al-Mulk: 15)

Wallahu’alam bishawab
Bogor, 18 Jan 08
Selamat berwirausaha
Semoga berhasil…

Iklan

Responses

  1. it’s a nice contemplation 😉

  2. salut mas….
    mari berwirausaha…!!!! ada peluang???

    ———————————————
    ramdhan says
    Akhi, peluang itu sangat teramat banyak. Negeri kita
    belum juga bisa berswasembada kedelai, jagung, daging,
    dsb. Kalau kita bisa mengelolanya, itu peluang bukan?

    wallahu’alam

  3. Ane hanya bisa membantu, memberi peluang dan dukungan moril pada adik-adik ane yang kurang beruntung. Mereka ane kasih modal untuk dirikan bengkel dan tambal ban sepeda motor dengan modal yang sangat minim. Ane sendiri bekerja jadi PNS sebenarnya ane ingin berwirausaha juga agar bisa independen dan lepas dalam berkarya serta dapat membantu dan membina manjemen usaha adik2 ane. Apakah ane harus lepas dari status sebagai PNS. Cuma yang ane takut karena satu2nya andalan keluarga adalah ane, jika bankrupt nanti dan ane dah tak sebagai PNS tak ada lagi yang menjadi tulang punggung. Bagaimana tanggapan Akhi?

    ——————————————————-
    Barakallah….
    Semoga Allah memberi yg terbaik untuk semua budibaik dan niat tulus akhi fillah. Sekecil apapun seringan apapun.

    Sebaik2 penolong hanya Allah
    Sebaik2 pemberi jalan terang hanya Allah
    Semoga antum sudah menyampaikan cita2, keluh kesah, harapan, dan kesungguhan niat ini Tuhan yg menguasai rizki.

    Ini hanya pendapat (saran) saya:
    Realitanya memang ada beberapa tipe orang, dan sesuai dg tipenya harus disesuaikan pula actionnya. Here they’re:
    == Tipe Low Risk Taker
    Ini tipe orang yg sangat teramat takut mengambil resiko, bahkan yg kecil sekalipun. Biasanya karena faktor lingkungan dan sikap (kepribadian) yang mempengaruhinya. Sulit mengambil keputusan, sangat bergantung pada orang lain. Satu cara bagi orang tipe ini adalah menceburkannya dalam unreliable condition (kondisi yg sangat sulit). Dengan begini akan muncul sikap unfearness. Menjadi lebih berani dan terampil.

    == Tipe Risk Taker
    Ini tipe yang sangat entepreneurness. Jumlahnya relatif sedikit, tp sangat kuat dan besar. Mungkin kita pernah dengan kisah Abu Bakar yg menginfakkan seluruh hartanya, yg private, niaga, bahkan hingga margin-marginnya. Sangat risk taker, salah satu alasannya kuatnya adalah karena ia yakin sepenuh hati, ada Allah yg Maha Penolong, Maha Pengatur Rizki. Lihat Qur’an Surat Muhammad. Barang siapa menolong agama Allah, maka Ia akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya.

    == Tipe Half Risk Taker
    Ini (mungkin) tipe seperti antum. Berani tapi agak takut, takut tapi masih berani. Memang benar, salah satu kunci dalam bisnis adalah focus strenght (kekuatan fokus). Ketidakfokusan akan banyak menimbulkan kelemahan di banyak sisi. Tapi bukan berarti tidak ada jalan keluarnya. Ini 2 saran bagi Half Risk Taker
    a. Focus to 1 way
    Sederhananya, memilih salah satu. jadi employee (pekerja) atau entepreneur (wirausahawan).

    b. Manage more than 1 way
    Mengatur energi, waktu, tenaga, fokus, finansial, dan kekuatan pada beberapa pilhan (employee/PNS dan entepreneur)

    Mengingat kondisi antum yg seperti disebutkan di atas. Saya sangat menyarankan beberapa hal.
    Pertama Menggunakan pola manage more than 1 way (ini akan relatif meringankan resiko). Tp harus diingat, dg pola ini perkembangan usaha akan relatif membutuhkan waktu.

    Kedua Mempunyai tim. Ini akan sangat bermanfaat untuk saling memotivasi kalau ada yg low motivation, saling mengingatkan, dst.

    Ketiga Segera ACTION. Ini relatif penting, jangan juga terlalu lama membuat prediksi, analisa ini itu, hingga hanya menjadi NATO (Not Action Talk Only) atau NAPO (Not Action Plan Only) atau NACO (Not Action Concept Only). Rencana tetap akan menjadi rencana hingga ia benar2 dilaksanakan.

    Keempat Perkuat ibadah kepada Yang Mengatur Rizki. Bahagia bukan soal sedikit atau banyak, punya mobil atau tidak, tapi ia pada soal keberkahan, ketenangan, keikhlasan. Hidup di dunia hanya sekali, jangan gadaikan akhirat hanya untuk selembar dua lembar harta.

    Semoga berhasil

    Allahummaj’al fi Qalbi Nuur (Ya Allah terangi hati kami dg cahaya)
    Wa lisaaninnur (Dan lisan kami dengan cahaya)
    Wa Sam’i nuur (Dan pendengaran kami dengan cahaya)
    Wa Bashari nuur (Dan pandangan kami dengan cahaya)

    — Amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: