Oleh: ramdhany | Januari 25, 2008

Pilar-Pilar Kemenangan

Bismillahirrahmaanirrahim….
Innalhamdalillah hamdan kastiran kama amr, hamdan yambagilijalali wajhihil karimi wa’dzimi shulthanik. Asyahadualla ilaaha illallah wahdahula syarikalah syahadahu siddiqul haqq, wa asyhaduanna muhammadan abduhu warusululuhu naba ‘asyrahmatallil ‘alamin.

Alhamdulillah…
Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan, kebaikan, dan keluhuran budi pada kita semua. Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita kelapangan jiwa, ketajaman pikiran, keteduhan kata-kata, dan kekuatan ahsanu ‘amala. Salawat dan salam semoga tersampaikan pada Rasulullah Muhammad bin Abdillah saw dan keluarganya, juga semoga tersampaikan kepada para Nabi pendahulu, para sahabat, tabiit, tabi’in, kepada para ulama, kepada para syuhada, dan kepada saudara-saudara muslim semua.

Mudah-mudahan majelis ini senantiasa ada dalam keberkahanNya, yang senantiasa didoakan para malaikat. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga, saling memahami dan menanggung, saling merasakan dan membantu, dan semoga kita masih terus bersemangat untuk senantiasa melakukan mumtasy (penyegaran). Untuk terus memperbaiki diri, sekecil apapun, seringan apapun.

Akhi yang dicintai Allah…
Dari beberapa ayat yang dibacakan bersama tadi, kita melewati satu surah yakni surah An Nisa (wanita). Pada ayat ke 14 bisa dijumpai penjelasan mengenai waris, dan dalam Al Qur’an tidak ada hal-hal muamallah yang dijelaskan begitu detail layaknya hukum waris. Seharusnya mudah bagi kita semua untuk merujuk pada Qur’an kalau ada masalah dalam hal waris, jadi tidak perlu saling berselisih paham, saling hujat menghujat, dan bahkan saling menumpahkan darah satu sama lain hanya karena permasalahan seputar waris. Dan memang, terkadang butuh kelapangan jiwa dan keluasan budi untuk bersabar. Bisa jadi bukan masalahnya yang menjadi masalah tapi kedengkiaan dalam jiwanyalah yang membuat banyak masalah.

Selanjutnya, pada ayat 19 surah ini (QS. An Nisa) dibahas juga mengenai hidup dan kehidupan berumah tangga. Bersabar pada setiap kekurangan istri (pasangan), dan mensyukuri akan kelebihan dan keutamaannya. Bisa jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal Allah mengetahui ada kebaikan di dalamnya, karenanya husnuzhan itu sangat penting dalam rumah tangga. Insya Allah ini semua sebagai persiapan kita, belajar rumah tangga bukan berarti harus berumah tangga dahulu, persis seperti kita belajar, mempersiapkan kematian, bukan berarti kita harus meninggal terlebih dahulu.

Akhi sekalian, ada satu kisah menarik….
Satu pemuda yang baik, juga tampan, relatif tampan pada saat itu. Rasulullah menikahkan beliau dengan seorang akhwat (wanita) yang shalih dan secara fisik (kecantikan) relatif umum (tidak terlampau cantik). Sang pemuda merasa heran, kenapa dinikahkan dengan sang wanita tersebut padahal secara fisik ia tampan. Hingga tibalah seruan dari Rasulullah pada pemuda tersebut untuk pergi ke satu tempat untuk menunaikan amanah.

Pada saat sang pemuda pergi, ia meninggalkan istrinya dalam keadaan mengandung anaknya. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, ia belum juga kembali ke rumah. Lantas Rasulullah menegurnya karena ia tidak menugaskannya dalam waktu yang terlampau lama, hingga tak menjenguk anak dan istri. Akhirnya ia pulang, kembali ke rumah menemui istri dan anaknya

Sebelum sampai ke rumah, ia singgah di satu masjid. Ia menemukan satu pemuda yang santun, shalih, dan sangat berbudi, singkatnya ia kagum akan pemuda itu. Sesaat sampai di rumah, ia menemui istrinya, dan bertemu lagi dg anaknya yang juga adalah anak santun di masjid tadi. Ia tersadar bahwa sang istrilah yang berbaik hati mendidik anaknya, menyantunkannya hingga menjadi pemuda yang baik. Dan inilah kebaikan sang istri, yang luput tak terlihat mata. Semoga kita bisa mengambil ibrah.

Amma ba’du….
Akhi anakku sekalian, insya Allah kita akan fokus pada pembahasan tentang pilar kemenangan da’wah. Dan insya Allah ini sudah banyak dibahas di banyak majelis, sudah banyak ditulis di banyak buku, dan mungkin sudah banyak tersebar di banyak media. Dan sebagai penyegaran, ada baiknya kembali mengingat kembali beberapa pilar kemenangan tersebut.

Akhi sekalian…
Ada beberapa hal (pilar) yang menyokong sebuah kemenangan da’wah, menegakan kekuatan da’wah. Yang pertama yakni adanya manhaj (sistem, aturan, pedoman) yang benar. Manhaj inilah yang kelak akan menjadi peta, arah jalan, petunjuk gerak yang menuntun pada jalan yang benar. Inilah manhaj yang sangat penting dan urgen. Sama seperti akan mendaki gunung berhutan, tanpa bekal, tanpa peta, tanpa penunjuk jalan, tanpa kompas penentu arah, akan teramat sulit, dan bahkan tak akan sampai pada tujuan. Dengan manhaj yang benarlah akan sangat memungkinkan berjalan di jalur yang benar, tak tersimpang ke kanan dan ke kiri, dan terjaga (ashalah) keasliannya.

Dan manhaj yang pertama dan utama adalah Al Qur’an Al Karim, inilah manhaj utama. Tidak akan pernah ada perbaikan dan kebaikan tanpa kehadiran Qur’an di dalamnya. Sehebat apapun kekuatan, setinggi apapun pergerakan, sebanyak apapun barisan pasukan, seluas apapun ranah kekuasaan, maka tak akan pernah dan sangat tidak pernah akan mencapai titik keberhasilan tanpa berpegang pada Qur’an sebagai manhaj utama. Sehingga, jangan sampai kita lalai dan lupa pada Qur’an. Teruslah perbanyak bacaan Qur’an, dirutinkan setiap harinya, dihafalkan semampu kita, amalkan dan ajarkan pada saudara-saudara lainnya yang belum mengenalnya.

Pilar yang kedua…
Yakni sasaran yang jelas. Sama halnya olahraga tembak, sasaran dan arah harus jelas. Tanpa sasaran, tanpa target, tanpa arah yang tertata dan tersusun, akan teramat sulit mencapai hasil yang maksimal. Keteraturan, ketenangan, serta rasa santun dalam da’wah akan sangat membantu ketersebaran da’wah ke berbagai ranah, ke berbagai penjuru, dan ke berbagai lapisan masyarakat. Karenanya urgen bagi kita untuk belajar pada bidang yang spesifik, agar jelas sasarannya.

Bagi mahasiswa, belajar adalah jihad yang memungkinkannya menembak pada sasaran yang tepat. Pun dengan arsitek, dengan tentara, dengan dokter, dan yang lainnya. Spesifikasi akan sangat membantu untuk dapat mengalirkan kekuatan-kekuatan da’wah ke berbagai penjuru, ke berbagai sarana, ke banyak sudut profesi.

Yang terakhir….
Adalah keteladanan yang baik. Kita bisa merasakan, apa jadinya kalau seruan tanpa keteladanan, apa jadinya ide-ide tanpa kerja nyata, apa jadinya bertumpuk konsep tanpa contoh nyata yang memudahkan. Tanpa keteladanan, tanpa amal, tanpa kesinambungan kerja-kerja nyata, maka akan teramat sulit mendapat kepercayaan orang lain, akan teramat sulit mendapatkan tempat di hati masyarakat, di dalam jiwa orang lain.

Memang diperlukan penyesuaian dengan kondisi msyarakat, dengan kondisi orang lain. Mungkin ada beberapa orang yang dengan tulisan hatinya akan bisa tersentuh, atau dengan senyum akan tergerak kesadarannya, dengan prilaku yang baik, dengan pengajaran yang santun. Kita memang harus pandai dan tepat memilah dan memilih, menyesuaikan bahasa dan kebiasaan, menata cara dan metode.

Allah swt berfirman dalam surah An Nahl

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl:125)

Akhi anakku sekalian…
Dari ayat ini, kita bisa melihat bagaimana hikmah, pelajaran, dan pengajaran yang baik, dan kesantunan dalam bicara adalah titik-titik simpul dakwah. Banyak ulama menjelaskan bahwa hikmah adalah al ilmu wal amal (ilmu dan amal), ilmu yang bermanfaat dan amal yang meneduhkan.

Ikhwah sekalian…
Itulah tadi beberapa pilar-pilar kemenangan, semoga kita bisa memahami dan juga mengamalkannya. Tetaplah bersemangat melakukan perbaikan demi perbaikan, sekecil apapun seringan apapun. Tetaplah bersemangat untuk terus tilawah (membaca) Al Qur’an, mengahafalkannya sesuai kadar kemampuan, dan janganlah menyerah untuk terus berkarya dan berbuat. Bersegeralah kita semua dalam kebaikan dan kebenaran, semoga Allah memberkahi. Amin

Wallahu’alam bishawab
Ust. E Syamsudin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: