Oleh: ramdhany | Januari 25, 2008

Kematian Hati

Banyak orang tertawa…
Tanpa (mau) menyadari
Sang maut sedang mengintainya

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat …
Laiknya orang yang amat merindukan kekasih
Sayang, ternyata ia datang tergesa-gesa
Hanya agar dapat segera pergi

Seperti penagih hutang yang kejam
Ia perlakukan Tuhannya
Ada yang datang
Sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama

Dingin…
Kering…
Dan hampa…
Tanpa penghayatan
Hilang tak dicari
Ada tak disyukuri

Dari jahil…
Engkau disuruh berilmu
Dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu
Engkau dituntut beramal
Dengan ilmu yang Allah berikan
Tanpa itu, alangkah besar kemurkaan Allah atasmu

Tersanjungkah engkau…
Yang pandai bercakap
Tentang keheningan senyap
Ditingkah rintih istighfar
Di riak air wudhu di dingin malam
Lapar perut karena shiam
Atau kedalaman munajat
Dalam rakaat-rakaat panjang

Tersanjungkah engkau…
Dengan licin lidahmu bertutur
Sementara dalam hatimu tak ada apa-apa
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat
Dan sangka baik orang-orang berhati jernih
Bahwa engkau adalah seorang shalih
Alim
Abid lagi mujahid
Lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Tidakkah kau lihat…
Abu Bakar asshiddiq ra
Yang selalu gemetar saat dipuji orang

’Ya Allah…
Jadikan diriku lebih baik
Daripada sangkaan mereka
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka
Dan ampunilah aku lantaran ketidak tahuan mereka’

Ada orang bekerja keras…
Dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana
Lalu ia lupakan semua itu
Dan tak pernah mengenangnya lagi

Ada orang beramal besar…
Dan selalu mengingat-ingatnya
Bahkan sebagian menyebut-nyebutnya

Dan ada orang beramal sedikit…
Dan merasa amalnya sangat banyak

Dan ada orang…
Yang sama sekali tak pernah beramal
Lalu merasa banyak amal
Dan menyalahkan orang yang beramal
Karena kekurangan
Atau ketidaksesuaian amal mereka
Dengan lamunan pribadinya
Atau tidak mau kalah dan tertinggal
Di belakang para pejuang
Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Di mana kau letakkan dirimu?

Saat kecil…
Engkau begitu takut gelap
Suara dan segala yang asing
Begitu kerap engkau bergetar dan takut

Sesudah pengalaman…
Dan ilmu makin bertambah
Engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar
Tanpa rasa gentar

Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa
Telah berapa hari engkau hidup
Dalam lumpur yang membunuh hatimu
Hingga getarannya tak terasa lagi
Saat maksiat menggodamu
Dan engkau menikmatinya

Malam-malam berharga berlalu…
Tanpa satu rakaat pun kau kerjakan
Usia berkurang banyak
Tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada Allah
Di mana kau kubur dia?

Di luar sana…
Rasa malu tak punya harga
Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca
Sampul majalah
Atau penawaran langsung

Ini potret negerimu…
228.000 remaja mengidap putau

Dari 1500 responden usia SMP & SMU
Seperempatnya mengaku telah berzina
Dan hampir separuhnya setuju
Remaja berhubungan badan di luar nikah
Asal jangan dengan perkosaan

Mungkin engkau mulai berfikir…
Jamakkah, bila aku main mata
Dengan aktivis perempuan
Di celah-celah rapat

Atau berdialog dalam jarak sangat dekat
Atau bertelepon
Dengan menambah waktu yang tak kau perlukan
Sekedar melepas kejenuhan
Dengan canda jarak jauh
Betapa jamaknya…
‘Dosa kecil’ itu dalam hatimu

Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu
Saat TV thaghut
Menyiarkan segala kesombongan jahiliyah dan maksiat

Saat engkau muntah…
Melihat laki-laki berpakaian perempuan
Karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan

Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan
Dan perempuan berpakaian laki-laki
Apakah tertawa riang
Dan menonton akting mereka tidak dilaknat?

Ataukah taqwa berlaku…
Saat berkumpul bersama

Sekarang kau telah jadi kader hebat…
Tidak lagi malu-malu tampil
Justru engkau akan dihadang tantangan
Sangat malu untuk menahan tanganmu
Dari jabatan tangan lembut lawan jenismu
Yang muda dan segar

Hati yang berbunga-bunga…
Di depan ribuan massa
Semua gerak harus ditakar
Dan jadilah pertimbanganmu tergadai
Pada kesukaan atau kebencian orang
Meski harus mengorbankan
Nilai terbaik yang kau miliki

Lupakah engkau…
Jika bidikanmu ke sasaran tembak
Meleset 1 milimeter
Maka pada jarak 300 meter
Dia tidak melenceng 1 milimeter lagi

Duhai…
Pernah kau lihat
Sepasang suami istri
Dengan anak remaja mereka
Tengoklah langkah mereka di mal

Betapa besar…
Sumbangan mereka kepada modernisasi
Dengan banyak-banyak mengkonsumsi junk food
Semata-mata karena nuansa “westernnya

Engkau akan menjadi faqih
Pendebat yang tangguh
Saat engkau tenggak minuman halal itu
Lihatlah
Betapa Amerikanya aku

Memang…
Bukan soal Amerika atau bukan Amerika
Tapi, apakah engkau punya harga diri

Tidakkah kau lihat…
Mahatma Ghandi
Memimpin perjuangan
Dengan memakai tenunan bangsa sendiri
Atau terompah lokal yang tak bermerk
Namun, setiap ia menoleh ke kanan
Maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan
Bila ia tidur di rel kereta api
Maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur di sana

Dan bilakah datang pemimpin…
Yang ingin mengatrol harga diri
Dan gengsi dengan pameran mobil
Rumah mewah
Toko emas berjalan
Dan segudang aksesori

Saat fatwa digenderangkan
Telinga mendadak senyap tuli
Oleh dentam berita
Tentang hiruk pikuk pesta dunia

Wallahu’alam bishawab
Disadur dari tulisan (alm) Ust. Rahmat Abdullah
Bogor, 22 Jan ‘08

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: