Oleh: ramdhany | Januari 6, 2008

Ruang Ali

Bismillahirrahmanirrahim….
Uhayyikum bi tahiyyatil islam, bi tahiyyatal mubarakah min indillah

Assalamu’alaikum warhmatullahiwabarakatuh
Innalhamdalillah nahmaduhu wanastainuhu wanastagfiru, wana’udzubillahi min suruurianfusina wa min syyi’ati ‘amalina mayyahdillahu falaamudillalah wa mayyudlilfalaahaadialah

Asyahadualla ilaaha illallah wa asyhaduanna muhammadarasulullah. Ayyuhal ikhwan, ittaquallahahaqqatuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.

Semoga Allah senantiasa memberkahi kita semua, meridhai setiap jengkal niat, usaha, dan ikhtiar kita untuk mencari ilmu, memperbaiki diri, masyarakat, ummat, dan kehidupan fil ardh. Juga semoga ukhuwah diantara kita semua bisa semakin kuat, semakin kokoh, saling menanggung, saling menjaga, dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Akhi yang dicintai Allah…
Sadar ataupun tidak, jelas ataupun samar, ternyata ada sebuah anggapan di masyarakat kita tentang dakwah, tentang islam, tentang dienul islam. Ada anggapan yang tidak sedikit bahwa dakwah islam, islam, ibadah, dan dienul islam adalah hanya untuk akhirat, hanya akhirat oriented. Anggapan yang memandang mengaji, belajar agama, ibadah (shalat, zakat, dsb) adalah kegiatan zona akhirat yang berbeda sama sekali dengan zona dunia, zona amal waqiiah (kekinian), dan zona modernitas.

Anggapan inilah yang seolah memisahkan antara dunia dan ajaran agama, politik dan ibadah, ekonomi dan syariah. Inilah anggapan-anggapan yang perlu untuk segera diluruskan dengan nasihat yang hanif dan penuh kesabaran. Inilah anggapan yang menunjukan realita (waqiiah) dan tingkat peradaban masyarakat kita. Inilah realitanya.

Akhi, anak-anakku sekalian…
Bahwa islam bukan hanya sesuatu yang mengawang tinggi di atas langit, bukan hanya sekedar konsep tanpa aplikasi, bukan hanya sebatas tulisan-tulisan tanpa amal dan keteladanan. Islam adalah keberkahan, sebagaimana halnya hujan yang mengguyur tanaman, dia tumbuh, dia berkembang (atas izin Allah), dan seperti itulah semestinya.

Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surah Al Qasas

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS. Al Qasas: 77)

Inilah jawaban…
Atas angapan-anggapan yang belum lurus tentang dakwah islam, tentang ibadah, dan tentang islam. Inilah hujjah, bahwa dakwah mencakup berbagai hal. Bahwa dakwah mencakup hal-hal ekonomi, mencakup ilmu-ilmu pengetahuan, riset-riset teknologi, politik dan kepemimpinan, budaya dan perbaikan masyarakat. Membantu saudara kita yang terkena banjir, yang terkena longsor, bencana alam, kecelakaan lalu lintas, kebakaran, menolong yang lemah, membantu kaum fuqara, itulah dakwah. Itulah dakwah islam, itulah dakwah yang muntijah, dakwah yang hanif, baik lagi bersih. Itulah yang Allah harapkan, bahwa dakwah bukan hanya tataran konsep yang melanglang buana di alam langit, tapi juga harus membumi, membawa manfaat untuk manusia, dan alam raya.

Akhi yang dicintai Allah…
Sebagai seorang manusia, seorang muslim, dan isya Allah seorang du’at, memang yang pertama dan utama yang harus didahulukan dan diprioritaskan adalah kehidupan akhirat, akhirat ketimbang dunia. Dan ini bukan berarti dunia diterlantarkan, disisihkan, dipinggirkan hingga terlepas sama sekali dari pikiran kita, bukan itu. Dunia itu memang penting dan urgen, akan tetapi kehidupan akhirat jauh lebih penting.

Kehidupan akhirat itu jauh lebih lama ketimbang kehidupan dunia, seperti tetesan air di luasnya laut. Itulah akhirat, yang rentangnya jauh lebih panjang, jauh lebih luas, ketimbang dunia. Dan kehidupan akhirat itu, jauh lebih baik ketimbang dunia. Dan itulah rasio kehidupan dunia dan akhirat, kebaikan dunia dan akhirat. Dan yang terakhir adalah bahwa sebahagian besar kasih sayang Allah diberikan di akhirat. Allah memang memberi kasih sayang di dunia tapi Allah memberi jauh lebih besar di akhirat. Satu bagian di dunia dan 99 bagian di akhirat, itulah rasionya.

Akhi…
Itulah mengapa, akhirat sepatutnya mendapat ruang yang lebih dalam di hati kita. Dengan keutamaan yang jauh lebih dahsyat ketimbang dunia dan apa yang ada di dalamnya. Inilah yang seharusnya ditanamkan, yang tidak mengejar dunia sebagai tujuan satu-satunya, sebagai sasaran utama yang berlelah payah dituju. Harta bukanlah tujuan, kendaraan bukanlah tujuan, pangkat, jabatan, itu bukanlah tujuan, itu hanya sarana. Sarana untuk mencapai tujuan utama, sarana untuk mendekat pada Allah, sarana untuk dakwah, menebar kebaikan dan kemaslahatan, menebar kasih sayang dan kepedulian, itulah sarana dakwah.

Akhi, anak-anakku sekalian…
Itulah hakikat dakwah, hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Dan semoga kita semua senantiasa bisa mengambil pelajaran dari tiap-tiap titik hikmah, dari tiap-tiap jengkal kehidupan. Tetaplah besemangat untuk mendekat pada Allah, untuk menjaga amal-amal yaumiah (harian), untuk terus menebar kebaikan demi kebaikan, seringan apapun, sekecil apapun. Tetaplah bersabar untuk setiap jengkal musibah dan ujian, tetaplah bersabar untuk tetap beramal shalih, untuk tetap berada dalam lingkaran tarbiyah, dan tetaplah bersabar untuk menahan setiap kemaksiatan yang menggoda.

Semoga Allah memberkahi kita semua
Allahumma amin..

Ruang Ali, 04 Desember 2008
Ust E. Syamsuddin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: