Oleh: ramdhany | Juli 12, 2007

Yang Terbaik

Tetaplah tenang…
Tetaplah menatap mentari pagi,
sebagaimana engkau menatap riuh
keindahan taman negeri ini. Dan
janganlah engkau berputus asa, karena
putus asa bukanlah akhlak seorang
muslim, sebagaimana tanaman tanpa akar,
atau bumi tanpa cahaya.

Lihatlah bagaimana atap-atap rumahmu…
Lihatlah bagaimana ketulusannya
memayungi apa yang ada di bawahnya.
Tersiram pekatnya mentari siang,
terselimut dinginnya malam. Tanpa banyak
mata yang memandang sekerat atap, ia
tetap memayungi, tanpa banyak kepala
yang menghiasnya, ia tetap meneduhi.
Tanpa dihiraukan sekalipun, ia kan tetap
setia melindungi tatkala hujan, menutpi
tatkala terik menjelang. Ia senantiasa
begerak dan terus bergerak, memberi
manfaat pada yang lain.

Berikanlah yang terbaik….
Dari apa yang kau miliki, dari apa yang
kau punyai. Islam meminta sebagian besar
waktu terbaik, harta terbaik, dan usia
yang terbaik. Itulah yang diinginkan
Islam. Meminta waktu semangat kita,
bukan waktu malas kita. Meminta
ketulusan gerak kita, bukan kelalaian
demi kelalaian.

Lihatlah….
Bagaimana Abu Bakar menginfakkan seluruh
hartanya di jalan Allah. Atau Ustman bin
Affan yang mendanai sendiri pasukan
perang Tabuk. Kita bisa membayangkan
bagaimana ia mendanai pasukannya lengkap
dengan senjata, perbekalan, dan
kendaraannya, sementara jumlah
tentaranya ketika itu berjumlah lebih
dari sepuluh ribu pasukan.

Sungguh…
Islam menginginkan orang yang
mendermakan apa saja yang dimilikinya
untuk agamanya. Ia berikan kehidupan
terbaiknya, ia berikan tenaga
terbaiknya, ia berikan ruhiyah
terbaiknya, ia berikan segala yang
terbaik untuk sebuah perbaikan.

Tidakkah engkau mengenal Mus’ab bin
Umair…..?
Seorang pemuda tampan, parfumnya harum,
bajunya mewah, dan menjadi idola
gadis-gadis Quraisy karena ketampanan,
nama besar, dan nasabnya. Lihatlah ia
tatkala bersama Islam. Ia berikan apa
saja yang bisa ia berikan. Ia berikan
waktu, usia, harta, tenaga, dan
pengorbanan terbaiknya untuk sebuah
perbaikan. Ia tidak kikir dengan apa
yang dimilikinya hingga ia hanya memakai
baju tambalan ketika hidupnya, dan kaum
muslimin tiada menemukan kain kaffan
untuk menutupi tubuhnya tatkala
meninggal dunia.

Duhai akhi saudaraku…
Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk
memberikan yang terbaik. Untuk tidak
lagi shalat di waktu-waktu sisa, untuk
tidak lagi berinfak di sisa-sisa harta,
untuk tidak lagi bergerak di sisa-sisa
tenaga. Semoga kita bisa memberikan yang
terbaik.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
QS. Muhammad:07

(Wallahu’alam bishawab)
-Ramdhan-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: