Oleh: ramdhany | Juni 9, 2007

Belajar Dari Anak Muda

Selalu ada keluar biasaan yang lahir dari anak-anak muda. Bahkan pada usia 18 tahun, orang muda bisa melakukan sesuatu yang dahsyat.

Michael Sessions, menjadi walikota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat pada usia itu. Sebuah jabatan publik yang prestise. Mengalahkan rivalnya, Douglas Ingles, 51 tahun, bekas walikota sebelumnya yang seusia bapaknya. Lebih berpengalaman dan lebih berpengaruh. Tidak banyak modalnya, hanya 700 US dollar atau setara 700.000 rupiah.

 
Luar biasa
Selalu ada keluarbiasaan yang lahir dari anak-anak muda. Agent of change, anasir perubahan, atau pewaris bangsa yang disematkan pada kelompok ini, semakin menyakinkan bukan sekedar jargon melompong. Hanya lantang dalam pidato-pidato, ramai diartikel atau tulisan besar dan mencolok dalam bentangan spanduk. Anak muda semacam Session telah memberikan jawaban, dia bisa menjadi apa yang disebutkan tadi.

Jauh surut menelusuri sejarah bangsa Indonesia. Pada tahun 1920-an, suatu ketika Bung Karno pemuda kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 berpidato,

“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia.”

Menggetarkan! Luar biasa.
Anak Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu bicara saat usianya 19 tahun. Dan kelak, ia menjadi pemimpin besar sebuah bangsa besar. Dihormati, disegani, dicatat sejarah. Seorang anak muda yang yakin benar dengan kemampuan dan potensi anak-anak muda. Dan Soekarno membuktikannya. Bersama-sama banyak anak-anak muda lainnya, kobaran semangat revolusi untuk membebaskan negeri ini dicapainya.

Mengetengahkan Soekarno, tentu ada nama Mohammad Hatta. Sosok sederhana, pecinta buku dan rendah hati. Naskah tulisannya tersebar di berbagai perpustakaan dunia. Library of Congress, Perpustakaan Cornell University, dan Ohio University, ketiganya di Amerika. Di Belanda sendiri tempatnya menempuh pendidikannya, KITLV Leiden menyimpan 151 judul tulisan Bung Hatta, 42 buku tentang Bung Hatta dan 100-an artikelnya diberbagai majalah yang terbit di Belanda.

Dahsyat! Luar biasa.
Bung Hatta, tentu masih seorang anak muda ketika sekolah ke Belanda. Kehausannya akan ilmu dan jiwa intelektualnya yang terus menggelegak, membuat ia harus menyeberang lautan menuju sumber ilmu. Seperti hendak menjejak amanat yang diyakininya, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina.” Hatta mengejarnya hingga ke Belanda, negeri yang tak terperi jauhnya dari tanah kelahirannya Aur Tajungkang, Mandianin, Bukittinggi. Karyanya yang monumental adalah “Demokrasi Kita”. Bung Hatta meyakini bahwa demokrasi bisa berlangsung secara alamiah bila dijaga oleh rasionalitas dan konstitusi.

Kenang-kenanglah kami,

Terus, teruskan jiwa kami,

Menjaga Bung Karno,

Menjaga Bung Hata …

 

    (Karawang – Bekasi)

Khairil Anwar sang penyair muda itu pun peduli dengan keduanya dan persoalan bangsanya. Ia menyadurnya dari Mac Leish menjadi Kerawang Bekasi, setahun saja sebelum kematiannya. Menulis sajak ‘Aku’ yang terkenal itu, saat usianya 20 tahun. Usia muda, seperti ia juga mati muda. Khairil tidak hanya bersajak, tapi juga menerjemahkan karya Andre Gide dan John Steinbeck. Seperti juga karyanya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Jerman.

Apa yang hendak kita pelajari dari mereka?
Mereka mengajari banyak hal. Pertama, komitmen dan kegigihan. Michael Sessions, sempat ditolak saat melamar menjadi calon walikota karena umurnya kurang. Setelah melewati hari ulang tahunnya, ia kembali mendaftar. Batas usia 18 tahun dilewatinya. Tidak hanya gigih, tapi ia juga cerdik. Dan panitia pun mencatatnya sebagai calon walikota.

Bung Karno, komitmennya untuk membebaskan negeri ini dari penjajah, melahirkan kegigihan dan semangat yang terus membara. Penjara Banceuy Bandung, tempatnya saat ditangkap Belanda, menjadi ruang belajarnya. Ruang pengadilan menjadi panggung yang menggemparkan Belanda, ia berkata dalam pledoinya “Indonesia akan bebas”. Bung Hatta bahkan harus mengolesi tangannya dengan tinta untuk menolak ajakan pesta teman-temannya waktu di Amsterdam.

Kedua inovasi dan kreativitas. Bagaimana mungkin hanya dengan 700 dollar Sessions bisa mengalahkan rivalnya. Tujuhratus ribu, hanya jadi berapa spanduk? Ternyata ia memiliki inovasi dan kreativitas dalam berkampanye. Konsep kampanyenya sederhana, ia mendatangi rumah-rumah untuk mengenalkan dirinya, berdialog, memberi motivasi serta memberikan pendidikan politik yang baik. Sederhana saja, bahwa pemimpin harus mengenal rakyatnya dan rakyat harus mengenal pemimpinnya.

Berikutnya adalah keberanian berkompetisi serta menjunjung tinggi sportifitas. Prinsip kompetisi adalah pertarungan yang fair. Sportif dan taat aturan. Kenapa Michael Session tidak gentar melawan Douglas Ingles, yang notabene orang kuat. Karena aturan mainnya jelas dan tegas, panitia pemilihannya independen dan kompeten. Tidak ada yang ditakutkan untuk berkompetisi. Tidak ada aturan yang diskriminatif atau like and dislike. Ini pertandingan, Bung!

Tentu kita ingat, bagaimana Zinedine Zidan pesepakbola terbaik dunia berusia 34 tahun yang menanduk Marco Materazzi di Piala Dunia 2006. Anak muda yang begitu hormat pada orangtuanya, mencintai keluarganya, sempat terpancing emosinya. Emosi anak muda, jangan diprovokasi. Zidan bilang, “Orang yang bersalah adalah yang melakukan provokasi.” Dia hanya ingin mengatakan, akibat dari provokasi lebih berbahaya. Maka berpikir jernihlah.

Belajar adalah kewajiban yang tidak pernah berakhir. Tidak bertitik dan selalu koma. Dari buaian ibu hingga liang lahat. Banyak sekali mata air ilmu. Bung Hatta mengejarnya hingga ke Belanda, Bung Karno terus belajar walau ditangkap dan dipenjara. Belajar pada yang muda, tentu bijaksana. Anak muda yang terus belajar, jelas jauh lebih bijaksana.

Hari ini, manakala popularitas yang hangar-bingar menjadi warna dinding banyak rumah. Menjadi kelambu setiap tempat tidur. Menjadi selimut untuk mengantarkan mimpi-mimpi selebritas. Masih ada, bahkan banyak anak muda, dalam sepinya mengayun langkah, terbang menjadi elang.

Jonathan Pradana Mailoa meraih medali emas dan Absolute Winner Olimpiade Fisika Internasional (IpHO) ke-37 di Singapura. Mansyur Aziz Hilmy, anak Klaten, Jawa Tengah itu meraih medali emas Olimpiade Internasional bidang astronomi. Mungkin usia mereka baru atau belum 17. Usia yang bagi sebayanya dibelahan dunia lain, harus dimeriahkan dengan upacara. Tiup lilin dan pesta.

Masih adakah elan belajar seperti jaman Bung Karno, Bung Hatta, juga Khairil Anwar yang tidak lulus MULO tapi punya kemampuan bahasa asing yang baik? Masih, selain contoh diatas, dalam berbagai bidang yang lain banyak kita temui. Hanya karena pengetahuan dan prestasi itu jalannya sepi, tidak hangar bingar dan tidak seksi, maka tidak banyak yang melewatinya.

Mereka belajar dalam sepi, mengambil hikmah dan pelajaran dari banyak peristiwa. Termasuk dari Michael Sessions. Anak kemarin sore, bukan siapa-siapa, tidak ada yang mengenal sebelumnya, tapi bisa jadi walikota Hillsdale. Begitulah pembelajaran. Pilihan bajik menjadi orang bijak. Tapi tidak banyak yang memilihnya.

 


Responses

  1. ach……. Gak juga buktinya banyak anak muda yang terjerembab ke jurang yang gitu dech.misalnya aza banyak khan….?emmm seperti narkoba, miras, trek”an and so on.
    Tapi aku setuju bahwa anak” muda jaman dulu memang giat and rajin” + mereka hanya yang dapat kesempatan. yang miskin” kan gak boleh sekolah, iya khan ?pa aku salah menerima informasi ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: