Oleh: ramdhany | Juni 5, 2007

Teknisi Peradaban

Selalu saja ada kesenjangan antara konsep dengan realitas. Kita tidak mengatakan bahwa menyusun konsep lebih sulit daripada membangun realitas. Tidak pula sebaliknya. Konsep dan realitas merupakan dua dimensi yang berbeda. Masing-masing menghadirkan tantangan tersendiri. Masing-masing mensyaratkan orang-orang dengan karakter dan kemampuan alami yang berbeda.

Ada orang yang dapat mencapai prestasi yang tinggi pada ranah konsep, tapi harus berusaha keras ketika bekerja di lapangan realitas. Sementara orang lain dapat dengan santai membangun realitas, tapi harus berpeluh keringat ketika mesti menyusun konsep. Sulit sekali mendapati orang-orang dapat bekerja pada kedua dimensi tersebut. Lebih sulit lagi mencari orang yang dapat bekerja dengan kinerja yang relatif sangat tinggi pada keduanya. Begitu pula dalam upaya menyusun dan membangun peradaban, kita membutuhkan para arsitek peradaban yang bekerja pada ranah konsep dan para teknisi peradaban yang bekerja pada lapangan realitas.

Walaupun kebutuhan kita sama pentingnya baik kepada arsitek peradaban maupun kepada tehnisi peradaban, dari segi kuantitas, secara umum, dibutuhkan lebih banyak teknisi peradaban ketimbang arsitek peradaban. Serta dibutuhkan lebih banyak pekerja peradaban ketimbang teknisi peradaban. Kurva kebutuhan kita terhadap ketiga anasir peradaban itu akan berbentuk piramida normal. Tetapi pola aktifitasnya justru akan berbentuk piramida terbalik, di mana aktifitas tertinggi berada di tangan para pekerja peradaban, kemudian para teknisi peradaban, dan terakhir adalah para arsitek peradaban. Cateris paribus. Terutama jika dimensi waktu dan ruang diabaikan. Ruang dan waktu yang berbeda akan menuntut kuantitas, peran, dan tingkat aktifitas yang berbeda pula. Mungkin saja pada satu waktu, peran arsitek peradaban sangat dominan, tapi seiring dengan waktu, terutama ketika konsep-konsep peradaban telah menjadi solid dan matang, peran itu akan bergeser kepada tehnisi peradaban, dan terus bergeser kepada pekerja peradaban.

Konsep tentang peradaban (pembahasannya) harus meliputi semua dimensi kehidupan manusia; faktor-faktor utama pendorong dan penyusun peradaban; alur proses pembentukannya; uraian tugas dan proyek yang paling krusial; strategi dan pendekatan dalam upaya pembangunannya; dan titik-titik prioritas dan kritis.

Model dan konsep peradaban dari peradaban Islam gelombang kedua ini penting dirumuskan karena karakter dan model peradaban Islam gelombang pertama telah keluar dari inti nilai-nilai Islam seiring dengan berlalunya waktu; peradaban Islam itu tidak lagi dapat menjawab tantangan-tantangan zaman yang kemudian datang; ruang dan waktu di mana peradaban ini akan dilahirkan akan sama sekali berbeda (yang dipengaruhi karakter dan budaya masyarakat); peradaban barat yang ada kini telah terbukti merusak ketinggian derajat manusia, dan kelestarian alam; dan mendesaknya keperluan akan solusi kreatif eksklusif atas masalah kemanusiaan kontemporer.

Konsep-konsep tentang pembangunan peradaban Islam gelombang kedua hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur ketika tidak ada orang-orang yang mampu mentransfernya ke alam realitas. Kita membutuhkan orang-orang yang mampu menerjemahkan konsep-konsep peradaban yang dimaksud ke dalam sistem tata negara; kepada pasal-pasal hukum; kepada rumusan kurikulum pendidikan; kepada model pembangunan fisik; kepada tehnik bisnis dan investasi; kepada pendekatan ekonomi dan manajemen; kepada penciptaan tehnologi baru; kepada trend dan standar apresiasi karya-karya seni; kepada perilaku manusia dan tradisi-budaya masyarakat; kepada metode empiris-ilmiah; kepada praktek politik praktis; kepada praktek diplomasi antar negara; kepada resolusi-resolusi dan draft hukum internasional; dan kepada sistem birokrasi.

Para teknisi peradaban ini pula yang melakukan idendifikasi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan pada setiap tahap pembangunan peradaban baru. Akhirnya mereka pula yang akan mengambil peran sebagai administrator pada sistem pembangun peradaban ini.

Tentu saja kita membutuhkan semacam sistem dan organisasi untuk menjembatani dan mensinergikan kerja arsitek peradaban dan tehnisi peradaban. Tanpa sistem dan organisasi ini, pembangunan peradaban tidak akan menghasilkan pola dan bentuk yang indah dan rapi. Seperti bata-bata yang tersusun secara acak. Yang mana tak ada satupun yang tahu gambar besarnya. Yang mana semua anasir peradaban akan berkerja tanpa tahu bentuk akhir yang akan dituju.

Apapun profesi kita sekarang, dan di manapun kita bekerja, kita sudah harus mengidentifikasikan diri untuk mengambil peran tertentu dalam proyek peradaban ini. Apakah akan menjadi arsitek peradaban, tehnisi peradaban, ataukah pekerja peradaban. Mulai merumuskan kontribusi apa yang bisa diberikan kepada upaya membangun peradaban Islam baru ini. Apakah akan berperan sebagai konseptor, inventor, pengusaha, ataukah sebagai militer. Dimanapun kita berada kini, kita harus gunakan kesempatan yang ada untuk menyerap kekuatan dari lingkungan. Jangan terlena dengan keadaan. Kekuatan yang kita serap itu akan kita baktikan untuk peradaban baru ini.

Wallahu a’lam

(Disadur dari web pks-kotatangerang.or.id)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: