Oleh: ramdhany | Mei 30, 2007

Kejernihan Sebuah Keikhlasan

Saudaraku…………..
Jalan da’wah ini memang panjang. Lebih panjang dari usia kita, bahkan rentang masa sebuah generasi. Jalan ini setara dengan usia pertarungan antara yang haq dengan yang batil.

Karena itu saudaraku………..
Menempuh jalan ini jelas bukan perkara mudah. Karenanya kita perlu bekal. Aneh bila ada yang menempuh perjalanan panjang tanpa bekal. Bila dalam perjalanan fisik yang bersifat duniawi, seseorang harus mencukupkan bekal yang dapat menghantarkannya pada tujuan, apalagi bagi seorang dai yang dalam khafilah da’wah menempuh perjalanan yang bersifat ukhrawi. Rentang perjuangan da’wah yang ditempuh para dai memerlukan bekal yang lebih besar. Perbekalan yang menjaminnya sampai pada tujuan akhir yang dikehendaki.

Seorang mu’min memang harus membekali diri untuk akhiratnya. Bekal yang dapat membawanya melewati hisab (perhitungan amal) dan iqab (balasan). Bekal yang dapat memberinya ampunan dan menjadikannya berhasil melewati jembatan shiratal mustaqim. Di sanalah harta benda maupun status tiada sekalipun pernah menjadi ukuran. Satu-satunya pemberat timbangan hanya kebersihan hati dalam melakukan amal shalih.

Begitulah perjalanan seorang dai dalam kafilah da’wah ini. Ia harus membekali bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan yang panjang. Bekal yang menjadikannya memiliki nafas panjang. Bekal yang dapat mengecilkan semua kesulitan dan kepenatan. Ia juga harus bertekad dengan himmah (tekad) yang tinggi untuk mencapai kebaikan

Saudaraku………
Ada bekal yang harus kita miliki sepanjang perjalanan ini. Bekal pertama dan utama adalah keikhlasan. Apapun amal yang kita lakukan bila tidak karena Allah tiada akan diterima, dan akan terputus di tengah jalan. Perjalanan hati seorang dai kepada Allah dan RasulNya merupakan bentuk kedua dari hijrah fisik. Perjalanan itu memang harus dilakukan, karena itulah inti dari kandungan hijrah kepada Allah.

Saudaraku, ingatlah……………
Kemenangan hanya diperoleh melalui konsistensi niat kita kepada Allah dan RasulNya. Keikhlasan inilah yang mampu mengusir segala kebimbangan dalam perjalanan ini. Keikhlasanlah yang mampu menghilangkan kejahiliyahan dalam diri, sehingga kita tidak mendahulukan kemaslahatan pribadi di atas kemaslahatan umum, tidak menolak bahaya yang kecil dengan bahaya yang lebih besar. Kita menggunakan akhlak yang tidak tunduk pada pertimbangan hawa nafsu, yang tidak takluk pada semburan-semburan duniawi

Saudaraku….
Da’wah sekali-kali tidak dilakukan dengan motivasi duniawi. Janganlah ada dai yang bersemangat bernyala-nyala tatkala ia tenang dan tentram, tapi bilamana ujian dan fitnah datang ia berbalik dan mengingkari da’wah.

Ikhwati…sungguh, Allah berfirman

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi jurang, bila ia ditimpa kebaikan ia merasa tenang, tapi bila ditimpa fitnah ia berbalik. Rugilah dunia dan akhirat dan itulah kerugian yang nyata” QS. Al Hajj: 11

Saudaraku…….
Sesungguhnya fitnah atau ujian dengan segala bentuknya akan menyingkap hakikat dan menyaring kualitas para rijal da’wah, mereka yang ikhlas akan tersaring dari mereka yang riya. Mereka yang ikhlas akan terasing dari mereka yang berjuang dengan kemunafikan. Oleh karenanya saudaraku…..berhati-hatilah dengan istidraj..pemberian kenikmatan semu..Ada kalanya perjalanan da’wah sang aktivis dikelilingi berbagai kenikmatan. Allah berikan kemudahan padanya untuk terikat dalam kafilah da’wah. Allah hamparkan padanya pahala di dunia melalui ragam kenikmatan. Ia mengira dirinya sebagai orang yang paling baik perbuatannya. Tapi ternyata…..karena tiada keihlasan, maka tiadalah berbalas apa yang dilakukan. Na’udzubilah

Saudaraku……..
Sebagaimana disinggung dalam sabda Rasulullah saw “Sesungguhnya amal itu diukur dari niatnya” Seseorang diberi balasan sesuai keinginan dan maksudnya, sesuai dengan harapan dan kehendak nuraninya. Dan kelak, di hari kiamat, kepada orang-orang riya dikatakan kalian puasa dan shalat…….. tapi setelah itu dikatakan

”Sesungguhnya mereka adalah orang yang paling pertama
merasakan api neraka” (HR. Muslim)

Oleh karenanya…….
Luruskanlah niat sedari awal, jangan sedikitpun ada kerak dalam hati yang senantiasa menempel. Sungguh hati ini ibarat cermin, tiadalah cermin itu bersih bila ternyata terdapat banyak noktah di dalamnya.

Wallahu’alam bishawab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: