Bagaimana bisa
Aku tertawa terbahak-bahak
Sementara masih banyak saudaraku yang menangis pilu
Mengais puing impian untuk sekedar menghibur diri
Bagaimana mungkin
Aku makan sepenuh mulut
Sementara begitu banyak saudaraku yang terdiam menahan lapar
Menatap kosong dan hampa
Dan tersendiri dalam keramaian
Bagaimana mungkin
Aku tertidur panjang dan bermalasan
Sementara kewajiban dan tugasku begitu banyak
Sementara berpuluh harapan bertumpuk di punggungku
Sementara kematian terus membuntutiku
Dan bagaimana mungkin
Aku melalanglang buana dalam keterlenaan
Dalam nikmatnya dunia yang tak berujung
Sementara begitu mudah kutemui saudaraku yang tertidur tanpa atap
Sementara begitu mudah kutemui saudaraku yang menangis tanpa kepedulian
Aku memang bukan siapa-siapa
Tapi aku ingin belajar meneladani Rasulullah
Yang begitu berfikir tentang lingkungannya
Yang sakit hatinya bila ummatnya dizalimi
Dan begitu hanyut memikirkan masalah orang lain
Aku juga ingin belajar dari Shalahuddin Al Ayubi
Yang hanya sedikit tertawa
Dan belum juga tenang
Hingga Palestina dibebaskan
Aku juga ingin belajar dari Hasan Al Banna
Yang hatinya begitu terluka
Saat bangsanya yang mulia
Yang memiliki ketinggian Islam yang mulia
Sebagai warisannya
Harga dirinya
Inti kebaikannya
Tertawan penjajah yang keji
Dengan berbagai senjata yang siap mematikan
Dengan harta benda
Dengan kedudukan
Dengan penampilan
Dengan kenikmatan yang tampak
Dan berbagai sarana propaganda
Aku memang bukan siapa-siapa
Tapi aku ingin menjadi lebih baik
Dari satu hari ke hari yang lain
Dari satu waktu ke waktu yang lain
Dan aku ingin menata dunia
Agar dapat tersenyum
Agar tak ada lagi yang merasa sendiri
Merasa terpinggirkan
Wallahu’alambishawab
Bogor, 30 April 08
Ditulis dalam Puisi