Jikalah…
Engkau tinggal di dalam rumah
Dalam pintu yang tertutup rapat
Tak ada lampu yang menerangi
Tak ada air yang mengaliri
Engkau diam dalam sepi…
Hanya segenggam makanan yang tersimpan
Dan hanya seteguk air yang tersisa
Engkau hidup seolah dalam keterasingan
Berteriak sekuat tenaga
Namun tak ada tetangga yang bergerak
Hati siapa yang takkan pilu…
Bilakah terasing dalam keramaian
Saat telinga-telinga tersumbat nafsu yang membuncah
Saat mata tertutup hawa dunia yang tak berkesudahan
Mereka adalah tetanggamu…
Dan bahkan saudaramu
Mereka punya mata yang bisa melihat
Punya telinga yang mampu mendengar
Dan punya kaki yang mampu melangkah
Mereka sangat tahu engkau menderita
Mereka pun paham
Bahwa engkau berada di ujung tanduk kematian
Dan inilah dunia…
Yang lebih hina dari seonggok bangkai
Saat tak ada lagi persaudaraan yang sejati
Saat tak ada lagi persahabatan yang tegak berdiri
Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi
Dan bilakah…
Engkau hidup di bumi Gaza
Maka seperti inilah engkau hidup
Engkau hidup dalam keterasingan…
Tertutup tembok gagah di kanan kiri
Engkau hidup tanpa listrik dan sedikit air
Bertemankan lapar dan gelap di malam hari
Berteriaklah dengan kuat…
Dan tetangga mana yang mau membukakan pintu untukmu
Adakah tetangga sebelah barat mau membukakan
Padahal ia bukan hanya sekedar tetanggamu
Tapi bahkan ia adalah saudaramu
Adakah tetanggamu yang kaya raya
Yang bahkan kilang minyaknya bertebaran di sana sini
Mau berbagi listrik dan air bersamamu
Padahal ia bukan hanya sekedar tetanggamu
Tapi bahkan ia adalah saudaramu
Duhai engkau…
Inilah manusia
Yang seolah tak pernah sadar
Dari apa ia diciptakan
Dan kepada siapa ia dikembalikan
Inilah manusia…
Yang kerap berkeluh kesah saat kesulitan datang
Dan lupa bersyukur saat kelapangan datang
Duhai engkau…
Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu
Sekalipun berjuta-juta mata tak pernah peduli padamu
Sekalipun berjuta-juta telinga enggan mendengarmu
Aku berharap
Engkau masih memiliki aku
Yang masih mau melihatmu
Yang masih mau mendengarmu
Dan masih sanggup mengulurkan tanganku
Meski tanganku lemah, kecil
Dan terlampau kecil untuk mengangkat
Duhai engkau…
Aku mencintaimu
Karena Allah
Rabbul ‘Izzati
Wallahu’alam bishawab
Bogor, 31 Jan 08
