Lihatlah…
Seorang pegawai tinggi
Gajinya sebulan satu setengah juta rupiah
Di garasinya…
Ada Honda metalik, Volvo hitam
BMW abu-abu, Porsche biru
Dan Mercedes merah.
Anaknya sekolah di Leiden
Montpelier dan Savannah.
Rumahnya bertebaran di Menteng
Kebayoran dan macam-macam indah
Setiap semester ganjil…
Isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.
Setiap semester genap
Isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika
Anak-anaknya pegang dua pabrik
Tiga apotik dan empat biro jasa.
Saudara sepupu dan kemenakannya
Punya lima toko onderdil
Enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,
Ketika rupiah anjlok terperosok
Terjatuh macet dan hancur jadi bubur
Dia ketawa terbahak- bahak
Karena depositonya dalam dolar Amerika semua
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat
Jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat
Krisis makin menjadi-jadi…
Di mana-mana orang antri
Maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.
Isinya masing-masing lima genggam beras
Empat cangkir minyak goreng
Dan tiga bungkus mie instan
Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi
Dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali
Gelombang mau datang…
Dan datanglah gelombang
Setiap air bah pasang
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang
Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihat
Kekayaan misterius mau diperiksa
Dan kekayaan tidak jadi diperiksa
Kekayaan mau diperiksa
Dan kekayaan tidak diperiksa,
Kekayaan harus diperiksa
Dan kekayaan tidak jadi diperiksa.
Bandul jam tua Westminster
Tahun empat puluh satu diproduksi
Lelah bergoyang begini
Sampai dia berhenti sendiri
Dan datanglah ide baru…
Isi formulir harta benda sendiri
Dan harus terus terang
Dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi
Karena ini soal sangat pribadi
Selepas itu suasana hening sepi lagi
Hanya ada bunyi burung perkutut sesekali
Seseorang dianggap tak bersalah
Sampai dia dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami…
Ungkapan ini terdengar begitu indah.
Bagaimana membuktikan bersalah
Kalau kulit tak dapat dijamah.
Menyentuh tak bisa dari jauh
Memegang tak dapat dari dekat
(Taken from Taufik Ismail)
