Masih pantaskah kau mengatakan dirimu muslim….?
Sementara kau lihat saudaramu jatuh
Satu demi satu
Depa demi depa
Sementara matamu hanya memicing tak memandang
Masih pantaskah kau mengaku ummat Rasulullah Muhammad saw….
Sementara dirimu hanya kau sibukkan hanya untuk perutmu sendiri
Menumpuk harta begitu menjulang
Menata perhiasan begitu menyilaukan
Sementara kau tak pernah tahu akan saudara muslim di sana
Yang perutnya lapar bersandarkan batu
Yang wajahnya nanar terdampar hentakan peluru
Yang air matanya telah terlampau kering tuk sekedar menangis
Masih pantaskah kau bicara terlampau tinggi….?
Sementara kau tak pernah merasakan goresan luka saudaramu
Sementara kau tak pernah meneteskan setitik air mata akan derita saudaramu
Masih pantaskah kau berujar terlampau jauh….?
Sementara tidurmu masih sepelupuk mata
Dan makanmu penuh segenggam mulutmu
Dan di jauh sana….
Saat peluru dilawan dengan keringat
Saat buldozer di hadang hanya dengan sebilah bambu
Saat tank-tank pembunuh hanya dibalas dengan sepercak batu
Akhi saudaraku….
Buanglah picingan mata acuh itu
Lemparlah jauh-jauh kedengkian tak berujung itu
Pendamlah dalam-dalam penyakit dunia yang menggelapkan
Belumlah terlambat tuk segera beranjak
Belumlah tertinggal tuk segera berbuat
Allah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur’an pedoman hidup kami
Wallahu’alam bishawab
(Bogor, 31 Mei 2007. Menjelang aksi peduli palestine 10 Juni 2007)
