Perompak itu esok kan datang……….
Membawa senyuman-senyuman nan beracun
Membawa sorot mata nan mematikan
Pembohong itu esok kan tiba
Dengan sejuta asa membara
Dengan seribu muka nan mendua
Menyebar fitnah di sana-sini
Membuat kerusakan yang tiada henti
Si mulut besar itu amat ringan berujar
Seolah dua bibirnya layaknya layang-layang nan mudah terbang
Seringan angin yang bertiup
Menebar senyum perdamaian nan hampa
Menebar duri-duri kedustaan yang terlihat manis
Si muka dua itu berpaling dari tangis janda-janda yang kehilangan suaminya
Dari raut sedih anak-anak yang harus meneteskan darahnya
Dari kusamnya kecamuk perang yang seolah tiada ujung
Ia hanya membuat petaka
Ia hanya membuat lubang baru yang menganga
Ketimbang sebuah perbaikan
Ia esok kan datang ke tanah ini……..
Dengan sejuta darah yang ia tumpahkan
Dengan sejuta tangis yang ia ciptakan
Ia esok kan datang ke negeri ini……
Dengan sejumlah petaka yang ia jalankan
Dengan sejumlah fitnah yang ia sebarkan
Ia esok kan datang ke kota ini……..
Seolah ia lupa akan dosa-dosanya di tanah Persia
Seolah ia lupa akan darah lebih dari 600 ribu manusia yang ia tumpahkan
Seolah ia lupa akan bau busuk lisannya yang menusuk sendi-sendi
Tapi negeri ini…………
Seolah hanyut dalam buai manis mulut besarnya itu
Seolah takjub akan tawa racunnya itu
Menyambut sang penipu layaknya seorang pahlawan
Melihat sang penebar fitnah layaknya sang pujangga
Layaknya melihat sang kekasih yang telah lama menghilang
Merogoh kantong sedemikian dalam
Menebar keindahan di sana-sini
Menata kemewahan sepanjang pandangan mata
Hanya untuk kedatangan sang perompak
Wahai saudaraku…………
Mungkin inilah bangsa yang digambarkan sang Khalil Gibran
Sebuah bangsa……..
Yang tak berani menyampaikan kata-katanya sendiri
Kecuali bila tengah bergandengan mesra dengan liang kubur
Bangsa yang tak menyimpan sebuah kebanggaan
Kecuali ketika sedang tersungkur diantara puing-puing keruntuhannya
Bangsa mengagungkan orang zalim layaknya pahlawan
Menyanjung-nyanjung penjajah layaknya bangsa yang berkuasa perkasa
Sebuah bangsa……..
Yang tak memiliki sebuah kemuliaan
Wallahualam bishawab
(Bogor, 12 November 2006 10:25 PM)
